Mengetahui Hubungan Antara Penyakit Hipertensi dan Diabetes

Mengetahui Hubungan Antara Penyakit Hipertensi dan Diabetes,- Penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi dan diabetes memiliki hubungan yang erat. Keduanya bersifat saling memengaruhi, sehingga penderita diabetes yang memiliki tekanan darah tinggi akan semakin sulit untuk disembuhkan atau diturunkan kadar gulanya. Begitu pula sebaliknya, penderita hipertensi yang memiliki riwayat diabetes juga akan lebih sulit untuk mengontrol tekanan darahnya.

Hipertensi dan diabetes bisa terjadi bersama-sama sehingga sering dianggap sebagai komorbiditas, penyakit yang mungkin timbul pada pasien yang sama. Hipertensi atau tekanan darah tinggi bisa terjadi dikarenakan adanya komplikasi penyakit diabetes yang kronis. Maka tak heran jika penderita diabetes memiliki risiko sekitar 40% kehilangan nyawa yang disebabkan oleh penyakit jantung koroner terkait dengan meningkatnya lemak darah yang menyebabkan plak.

Lalu, kenapa diabetes dan bipertensi biasa terjadi bersamaan ? Berikut ini merupakan beberapa alasannya !

Memiliki sifat fisiologis yang sama

Diabetes dan hipertensi cenderung terjadi secara bersamaan dikarenakan mereka memiliki ciri-ciri fisiologis tertentu, yaitu efek yang disebabkan oleh masing-masing penyakit cenderung membuat penyakit lain lebih mungkin terjadi. dalam kasus diabetes dan tekanan darah tinggi, efek ini meliputi :

  • Peningkatan volume cairan, diabetes meningkatkan jumlah total cairan dalam tubuh, yang cenderung meningkatkan tekanan darah.
  • Peningkatan kekakuan arteri, diabetes dapat menurunkan kemampuan pembuluh darah untuk meregang, meningkatkan tekanan darah rata-rata.
  • Gangguan penanganan insulin, perubahan dalam cara tubuh memproduksi dan menangani insulin dapat langsung menyebabkan peningkatan tekanan darah.

Mempengaruhi pasien yang sama

Penderita penyakit tertentu dapat dipengaruhi oleh faktor risiko salah satu dari kedua kondisi ini. Diabetes dan tekanan darah tinggi dapat dianggap sebagai penyakit yang ‘berbagi pasien’, dimana masing-masing penyakit cenderung mempengaruhi pasien yang sudah berisiko untuk kondisi yang lain. Hal ini mirip dengan konsep faktor risiko yang sama.

Sebagai contoh, data telah menunjukkan bahwa orang yang merokok lebih dari 1 bungkus rokok sehari lebih mungkin untuk minum minuman beralkohol dibandingkan dengan mereka yang tidak merokok.

Benda rokok dan alkohol memang tidak memiliki kesamaan, namun aktivitas merokok dan minum alkohol memiliki kesamaan. Demikian juga dengan orang-orang yang terlibat dalam gaya hidup yang menyebabkan diabetes juag cenderung mengikuti pola yang menempatkan mereka pada risiko tekanan darah tinggi.

Baca juga : Pengobatan Darah Tinggi yang Tepat untuk Penderita Diabetes

Memiliki faktor pemicu yang sama

Diabetes dan tekanan darah tinggi cenderung memiliki banyak faktor pemicu. Risiko untuk terjadinya tekanan darah tinggi juga berkontribusi terhadap perkembangan diabetes. Diet tinggi lemak yang kaya garam dan gula yang diproses menempatkan beban lebih pada aktivitas produksi enzim dan sistem kardiovaskular.

Rendahnya tingkat aktivitas fisik menurunkan efisiensi insulin dan menyebabkan arteri kaku dan respons sistem kardiovaskular yang buruk. Kelebihan berat badan juga memiliki konsekuensi yang sama dan merupakan faktor risiko yang kuat untuk diabetes ataupun darah tinggi. Strategi pendegahan untuk tekanan darah tinggi dan diabetes biasanya fokus pada faktor-faktor risiko tertentu.

Diabetes dan hipertensi bisa memperparah dengan sendirinya

Pasien dengan diabetes mengalami peningkatan gula darah dibandingkan dengan pasien tanpa diabetes. Kelebihan gula ini memiliki banyak konsekuensi, termasuk kerusakan pembuluh darah sensitif secara perlahan yang disebut dengan kapiler.

Kerusakna kapiler tertentu dalam ginjal dapat merusak kemampuan tekanan darah dalam mengatur ginjal, menyebabkan tekanan darah tinggi. Peningkatan tekanan darah ini menyebabkan perubahan kecil dalam aliran darah, yang memepengaruhi kapiler sensitif lainnya sehingga mengalami kerusakan tambahan.

Tekanan darah tinggi juga dapat mempengaruhi sekresi insulin dari pankreas, yang mengarah ke gula darah yang lebih tinggi. Dengan cara ini, kombinasi tekanan diabetes atau hipertensi merupakan suatu sistem yang dapat memperparah kondisi itu sendiri yang menyebabkan kedua penyakit tersebut cenderung semakin memburuk dari waktu ke waktu.

Seberapa umumkah hipertensi pada penderita diabetes ?

Data besar dari studi pada diabaetes tipe 1 menunjukkan bahwa :

  • 5% dari pasien diabetes memiliki tekanan darah tinggi dalam 10 tahun
  • 33% memiliki tekanan darah tinggi dalam 20 tahun
  • 70% memiliki tekanana darah tinggi pada usia 40 tahun

Dalam penelitian diabetes tipe 2, data menunjukkan bahwa hampir 75% dari pasien dengan masalah ginjal (komplikasi umum) memiliki tekanan darah tinggi. Pada pasien dengan diabetes tipe 2 tapi tidak ada masalah ginjal, tingkat tekanan darah tinggi yang terjadi yaitu sekitar 40%. Secara keseluruhan, jika dirata-ratakan untuk seluruh penderita diabetes dan semua rentang usia, sekitar 35% dari semua orang dengan diabetes memiliki tekanan darah tinggi.

Bahaya! Jangan Minum Antibiotik dan Obat Hipertensi Bersamaan

Bahaya! Jangan Minum Antibiotik dan Obat Hipertensi Bersamaan,- Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri penyebab penyakit pada manusia dan hewan seperti salmonella, tuberkulosis, sipilis, dan penyakit lainnya. Obat antibiotik juga diketahui bisa meningkatkan tekanan darah jika seseorang mengidap alergi akut atau kronis terhadap antibiotik tersebut.

Reaksi alergi yang disebabkan oleh obat antibiotik ini bisa berupa reaksi ringa sampai reaksi alergi yang parah. Reaksi alergi yang parah terkadang bsia mengancam nyawa penderitanya.

Sedangkan mengonsumsi antibiotik dan obat tekanan darah secara bersamaan bisa membuat tekanan darah menurun drastis dan menyebabkan syok pada pasien yang berusia lanjut.

Dalam sebuah penelitian, para peneliti menemukan bahwa orang lanjut usia yang mengonsumsi calcium-channel blockers (kelas obat yang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi) yang juga mengonsumsi antibiotik macrolide, erythromycin, atau clarithromycin lebih berisiko dirawat di rumah sakit karena hipotensi atau tekanan darah sangat rendah.

Clarithromycin dan erythromycin dapat berinteraksi dengan calcium-channel blockers. Obat ini menghambat sitokrom P450 isoenzim 3A4. Namun sayangnya, mekanisme dan penyebab interaksi ini belum dipahami dengan jelas.

Jangan konsumsi antibiotik dengan obat hipertensi secara bersamaan

Sebuah studi juga menunjukkan jika Anda mengonsumsi jenis pengobatan tekanan darah tinggi yang paling umum, Anda tidak boleh diresepkan berbarengan dengan beberapa jenis antibiotik tertentu. Studi ini menunjukkan bahwa kombinasinya dapat menyebabkan cedera ginjal yang jarang tetapi akibatnya serius.

Cedera ginjal akut, tekanan darah rendah yang sangat berbahaya, dan kematian dapat terjadi pada orang yang mengonsumsinya secara bersamaan. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang minum clarithromycin dan calcium-channel blockers secara bersamaan dua kali lipat lebih berisiko terhadap efek samping di atas dalam waktu 30 hari sejak mengonsumsi antibiotik tersebut.

Walaupun peningkatan risiko tergolong kecil, namun dampaknya tidak bisa disepelekan. Sebuah studi pada awal tahun ini juga menunjukkan bahwa clarithromycin dan erythromycin juga berinteraksi dengan cara yangs ama dengan obat statin, yaitu obat penurun kolesterol.

Namun, efek samping obat antibiotik yang berkaitan dengan tekanan darah berbeda pada setiap orang. Pasalnya, obat dari jenis apapun emmang akan menurunkan atau meningkatkan tekanan darah.

Jika Anda memiliki tekanan darah tinggi, sebaiknya hati-hati dengan penggunaan antibiotik karena dapat menimbulkan efek samping yang serius. Ketika antibiotik dikonsumsi oleh pasien dengan tekanan darah tinggi, maka risiko serangan jantung akan meningkat.

Konsultasikan terlebih dahulu mengenai obat apa pun yang Anda konsumsi. Jangan lupa, jika Anda memiliki hiperensi dan suatu saat Anda melakukan pemeriksaan ke dokter umum karena penyakit tertentu, misalnya flu, beri tahukan dokter bahwa Anda rutin mengonsumsi obat tekanan darah tinggi. Dokter mungkin akan menggunakan jenis antibiotik lain atau menyesuaikan dosisnya.

 

Baca juga :

Gejala Ini Mengindikasikan Anda Mengalami Krisis Hipertensi

Gejala Ini Mengindikasikan Anda Mengalami Krisis Hipertensi,- Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan kondisi kronis serta bisa menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan organ yang umumnya terjadi selama bertahun-tahun.

Penyakit hipertensi biasanya terjadi pada orang-orang yang berusia diatas 65 tahun. Namun, saat ini banyak orang-orang yang berusia produksi sudah memiliki tekanan darah tinggi. Hal tersebut disebabkan karena gaya hidup yang mereka jalani seperti diet tinggi garam, kurang beraktivitas fisik, sulit mengendalikan emosi, dan obesitas.

Jika tidak ditangani dengan tepat, maka tekanan darah dapat meningkat dengan cepat dan cukup parah atau dikenal juga dengan krisis hipertensi. Krisis hipertensi adalah peningkatan tekanan darah parah yang dapat menyebabkan stroke. Tekanan darah tinggi dengan tingkat atas (tekanan sistolik) 180 mmHg atau lebih tinggo atau tekanan bawah (tekanan diastolik) lebih dari 120 mmHg atau lebih tinggi dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah.

Pembuluh darah menjadi meradang dan dapat terjadi kebocoran cairan atau darah. Akibatnya, jantung tidak dapat memompa darah secara efektif.

Gejala hipertensi memang sulit dikenali. Untuk mendeteksinya, Anda perlu memeriksa tekanna darah secara rutin. Namun, ada gejala-gejala khusus yang perlu diwaspadai karena bisa jadi itu mengindikasikan kondisi hipertensi yang parah atau krisis hipertensi.

Beaberapa gejala yang mengindikasi Anda mengalami krisis hipertensi yang perlu diwaspadai diantaranya adalah nyeri dada, sakit kepala, dengungan menyakitkan di telinga, mimisan, dan masalah penglihatan seperti buran atau kabur.

Jika Anda sering mengalami beberapa gejala tersebut, maka sebaiknya segera kunjungi dokter. Pasalnya, bisa jadi Anda mengalami krisis hipertensi.

Krisis hipertensi bisa membuat gejalanya berkembang atau berlanjut ke tingkat yang lebih berbahaya. Kondisi ini bisa dikatakan kondisi darurat medis dan meningkatkan peluang terjadinya stroke ataupun serangan jantung.

Selain berkonsultasi dengan dokter, olahraga teratur, cukup tidur, serta konsumsi buah dan sayur juga bisa membantu menurunkan risiko hipertensi.

Benarkah Daging yang Dimasak Matang Sebabkan Hipertensi?

Benarkah Daging yang Dimasak Matang Sebabkan Hipertensi?,- Daging merupakan salah satu makanan yang cukup banyak digemari. Ada banyak olahan makanan yang berbahan dasar daging, salah satunya adalah steak.

Dalam menikmati steak daging ini, tidak sedikit orang, terutama orang Indonesia yang memilih memasaknya dengan kematangan yang sempurna atau disebut juga ‘well done’. Hal ini disebabkan karena daging yang masih mengeluarkan jus daging dinilai belum matang.

Namun, sebaiknya hentikan kebiasaan ini mulai sekarang. Pasalnya memasak daging hingga terlalu matang ternyata memiliki efek buruk bagi kesehatan. Hal tersebut terungkap dari penelitian yang dilakukan oleh Asosiasi Jantung Amerika.

Sebuah penelitian oleh American Heart Association mengungkapkan jika orang yang rutin konsumsi daging dengan tingkat kematangan well done bisa berisiko terkena hipertensi. Penelitian ini melibatkan partisipan sebanyak 100.000 orang. Para ahli meneliti cara memasa dan tekanan darah mereka selama 12 sampai 16 tahun. Hasilnya, peserta yang mengonsumsi daging sapi, ayam, atau ikan yang dimasak dengan suhu tinggi berpotensi terkena hipertensi sebesar 15% sampai 17%.

Hasil lainnya, peserta yang mengonsumsi dagin degan tingkat kematangan sempurna atau ‘well done’ memiliki risiko terkena hipertensi sebesar 15%. Dibandingkan dengan peserta yang mengonsumsi daging dengan tingkat kematangan ‘medium rare’.

Para peneliti juga menyimpulkan bahwa orang yang mengonsumsi daging panggang lebih dari 15 kali per bulan memiliki risiko terkena hipertensi sebesar 17% dibandingkan dengan orang yang hanya mengonsumsinya sebanyak 4 kali per bulan.

Hal ini dikarenakan adanya senyawa kimia bernama heterocyclic aromatic amines (HAAs) yang dihasilkan saat daging dipanggang dengan suhu tinggi. Sehingga mereka yang mengonsumsi zat kinia ini sangat rentan terhadap kenaikan tekanan darah.

Artikel terkait :

Menurut penulis penelitian, Gang Liu, kandungan kimia yang dihasilkan dari memasak daging dengan temperatur tinggi ini dapat meningkatkan tingkat oksidasi, inflamasi serta resisten insulin. Ini merupakan hasil penelitian terhadap hewan.

Namun, para peneliti menggaris bawahi bahwa penelitian ini tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur jika daging yang dimasak dengan tingkat kematangan ‘medium rare’ lebih baik daripada ‘well done’. Walaupun cara mengolah makanan dapat berpengaruh terhadap kesehatan, para ahli lebih menyarankan untuk melakukan diet seimbang daripada menghindari makanan yang diolah dengan temperatur tinggi.

Sebenarnya masalah hipertensi tidak hanya disebabkan karena mengonsumsi daging panggang. Seorang ahli diet asal Amerika bernama Katrina A Trisko, mengatakan bahwa National Cancer Institute telah memperingatkan tentang bahaya kanker jika terlalu sering mengonsumsi daging, baik diolah dengan cara dipanggang atau digoreng.

Menurut ahli, sebaiknya jangan terlalu menghindari makanan yang berisiko memberi dampak buruk bagi kesehatan. Tetapi Anda harus menjaga pola makan teratur yang seimbang. Jangan hanya mengonsumsi satu jenis makanan saja, tetapi konsumsilah beragam jenis makanan baik dengan cara dipanggang, direbus, goreng, ataupun tumis.

Inilah Alasan Mengapa Konsumsi Garam Sebabkan Hipertensi

Inilah Alasan Mengapa Konsumsi Garam Sebabkan Hipertensi,- Kita mungkin bisa memasak makanan lezat tanpa rempah-rempah seperti kunyit dan jahe. Tapi, apakah kita bisa memasak makanan lezat tanpa tambahan garam ?

Garam telah menjadi salah satu bumbu utama dari setiap masakan. Rasanya yang asin membuat setiap masakan bisa terasa semakin gurih dan lezat. Namun, saat mengonsumsi garam, pastikan agar garam yang dikonsumsi tidak berlebihan. Jika bisa, asupan garam yang dikonsumsi setiap harinya bisa dikurangi mulai saat ini.

Mengonsumsi garam berlebih bisa berdampak buruk pada kesehatan. Nutisi dan senyawa yang terkandung di dalam garam bisa menurunkan kesehatan seseorang, baik itu kesehatan fisik ataupun psikis. Salah satu gangguan kesehatan yang bisa disebabkan akibat mengonsumsi garam berlebih adalah hiperensi atau tekanan darah tinggi.

Tekanan darah tinggi atau hipertensi ini merupakan kondisi yang berbahaya untuk tubuh. Hipertensi bisa meningkatkan risiko tekanan serangan jantung, stroke, gagal jantung kronis, dan penyakit ginjal.

Lalu, mengapa konsumsi garam bisa sebabkan hipertensi ?

Ahli kesehatan menyebutkan jika selama ini garam menjadi penyebab utama risiko hipertensi. Terlalu banyak konsumsi garam tidak hanya meningkatkan risiko darah tinggi. Lebih jauh, ini juga bisa meningkatkan risiko stroke, jantung, dan obesitas.

Menurut The Dietary Guidelines for Americans, asupan sodium yang direkomendasikan adalah sebanyak 2.300 mg perhari. Namun, jika Anda telah memiliki riwayat hipertensi, asupan sodium atau garam maksimal yang sebaiknya dikonsumsi adalah 1500 mg per hari.

Konsumsi garam dapat memicu terjadinya retensi air pada tubuh yang berakibat menaikkan tekanan darah secara drastis dan tiba-tiba. Konsumsi garam berlebih juga bisa mengganggu keseimbangan natrium alami dalam tubuh.

Hal ini menyebabkan ginjal kesulitan menjaga kelebihan sodium dalam aliran darah. Ketika natrium terakumulasi, tubuh memerlukan banyak air untuk mencairkan sodium. Hal ini tentu akan meningkatkan cairan di sekitar sel dan volume darah dalam pembuluh darah.

Peningkatan volume darah ini membuat jantung harus bekerja lebih keras dan banyak tekanan pada pembuluh darah. Peningkatakn natrium juga menyebabkan pengurangan sintesis oksida nitrat yang berfungsi sebagai vasodilator arteriolar.

Vasodilator arteriolar adalah suatu zat yang dapat melebarkan pembuluh darah. Hal ini akan menimbulkan aliran darah lebih banyak hambatan karena terjadi penyempitan pembuluh darah. Maka dari itu, lebih baik untuk menjaga asupan garam setiap harinya mulai dari sekarang.

Artikel terkait :

Dampak Penggunaan Obat Anti-Hipertensi Terhadap Ginjal

Dampak Penggunaan Obat Anti-Hipertensi Terhadap Ginjal,- Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu penyakit yang banyak dialami oleh masyarakat serta bisa menyerang siapapun dan kapanpun. Untuk mengontrol tekanan darahnya, penderita hipertensi harus mengonsumsi obat hipertensi atau obat anti-hipertensi seumur hidup. Namun, sebagian besar orang merasa khawatir dan beranggapan jika obat anti-hipertensi bisa menyebabkan gagal ginjal, terlebih lagi jika digunakan dalam jangka panjang.

Tunggul D Situmorang, ahli ginjal hipertensi menanggapi pernyataan tersebut, dan menyebutkan bahwa semua jenis obat anti-hipertensi aman dikonsumsi. Bahkan obat anti-hipertensi bisa membantu mengontrol tekanan darah.

Menurut Tanggul, yang menyebabkan timbulnya gagal ginjal bukanlah obat-antihipertensi, melainkan tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol. Tekanan darah yang naik melampaui ambang normal mendorong ginjal untuk bekerja lebih keras hingga berujung gagal ginjal.

Obat hipertensi seperti betablocker bisa menurunkan kerja nadi dalam memompa darah agar tekanan darah menurun. Aliran darah yang terpompa ke ginjal tentu akan berkurang juga. Selama dalam kondisi baik, penurunan aliran darah ke ginjal tidak berdampak menimbulkan gagal ginjal.

Justru yang harus diperhatikan adalah fase-fase tertentu yang membuat fungsi ginjal menurun. Kondisi ini bisa dipengaruhi oleh usia, terutama yang lanjut usia (lansia).

Dalam kondisi ini, bukan berarti obat anti-hipertensi akan memperparah gagal ginjal. Tetapi hipertensi yang tidak terkontrol bisa menjadi penyebabnya.

Disebutkan Tunggul, yang memicu gagal ginjal adalah hiperkalemia. Kondisi dimana kalium pada tubuh meningkat. Ginjal tidak mampu membuang kelebihan kalium tersebut dan berakibat gagal ginjal.

Dokter juga tidak sembarangan menganjurkan obat kepada penderita hipertensi. Pemberian resep didasarkan pada penelitian menyeluruh pada pasien terlebih dahulu. Berdasarkan data Indonesian Renal Registry (IRR) pada tahun 2015, hipertensi menjadi penyemam utama gagal ginjal kronik (GGK), dengan persentase sebanyak 35%.

Maka dari itu, Tunggul meminta masyarakat untuk mengendalikan faktor risiko hipertensi, seperti gaya hidup. Berhenti merokok, mencegah kegemukan, olahraga secara teratur sebanyak 3 sampai 4 kali seminggu, serta rutin mengonsumsi buah dan sayur sangat dianjurkan untuk penderita hipertensi.

Baca juga : Obat Hipertensi yang Aman untuk Ginjal

Rutin Minum Teh Bunga Ternyata Bisa Menurunkan Hipertensi

Rutin Minum Teh Bunga Ternyata Bisa Menurunkan Hipertensi,- Jika terus dibiarkan, maka penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi akan menyebabkan beberapa penyakit diantaranya adalah serangan jantung, diabetes, dan stroke. Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan tekanan darah tinggi, seperti diantaranya pola hidup tidak sehat, usia, stres, obesitas, dan makanan.

Jika Anda memiliki indikasi tekanan darah tinggi, sebaiknya segera lakukan tindakan khusus. Tindakan umum yang biasa dilakukan adalah berkonsultasi dengan dokter atau mengatur pola makan. Mengurangi konsumsi garam, kalori, dan protein termasuk salah satu cara untuk diet bagi penderita tekanan darah tinggi.

Selain itu, sebuah studi mengklaim bahwa meminum 3 cangkir teh bunga setiap hari juga bisa membantu menurunkan tekanan darah tinggi. Sedangkan menurut ilmuwan Amerika Serikat, tekanan darah sistolik dan diastolik juga bisa diturunkan dengan mengonsumsi teh bunga sepatu.

Benarkah konsumsi bunga sepatu bisa bantu turunkan hipertensi ?

Bunga sepatu merupakan salah satu bunga yang tidak hanya indah, tetapi juga memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan dan kecantikan. Ketika seseorang bisa mengolah dan memanfaatkan bunga sepatu dengan baik, maka hal ini bisa membuat orang tersebut terbebas dari tekanan darah tinggi.

Beberapa penelitian terbaru yang dilakukan oleh para ilmuwan menemukan sebuah temuan yang mengejutkan seputar manfaat bunga sepatu untuk kesehatan. Para ilmuwan menemukan bahwa didalma bunga sepatu terkandung beberapa nutrisi yang sangat baik untuk kesehatan. Bahkan, beberapa ilmuwan percaya bahwa nutrisi yang terkandung didalamnya bisa membuat jantung menjadi lebih sehat. Selain itu, penelitian juga menyebutkan jika bunga sepatu bisa menurunkan tekanan darah seseorang dalam waktu yang cepat dan dengan cara yang mudah.

Ilmuwan menemukan jika bunga sepatu bersifat diuretik yang emmbantu tubuh menghilangkan kelebihan air. Bunga sepatu juga mengandung anthocyanin di mana zat ini bisa memblokir angiotensin converting enzyme (ACE) yaitu senyawa yang bisa menyebabkan pembuluh darah mengeruh dan bermasalah.

Selain bisa memblokir ACE, nutrisi pada bunga sepatu juga bisa menurunkan tekanan darah dengan baik. Untuk mendapatkan manfaat bunga sepatu untuk menurunkan tekanan darah, Anda bisa mengolahnya menjadi teh.

Baca juga : Manfaat Teh untuk Menurunkan Tekanan Darah Tinggi

Untuk membuat teh bunga sepatu cukup mudah. Anda hanya perlu menyiapkan beberapa bahan, seperti 4 gelas air, 3 sendok makan bunga sepatu kering atau 5 tangkai bunga sepatu segar, 7 cm kayu manis, 2 sendok makan madu, dan 1 buah jeruk (ambil airnya).

Setelah semua bahan siap, selanjutnya rebus air hingga mendidih. Masukkan bung sepatu dan kayu manis kemudian rebus hingga layu dan warna air berubah. Setelah itu, angkat dan saring ke dalam gelas. Tambahkan madu dan air perasan jeruk nipis. Konsumsi teh ini selagi hangat.

Itulah beberapa manfaat minum teh bunga sepatu dan cara pembuatannya. Semoga informasi tersebut bisa bermanfaat dan membantu menjadi solusi terbaik untuk membantu menurunkan tekanan darah tinggi atau hipertensi yang Anda alami.

Hati-Hati! Tekanan Darah Tinggi Bisa Menurunkan Fungsi Otak

Hati-Hati! Tekanan Darah Tinggi Bisa Menurunkan Fungsi Otak,- Sudah menjadi rahasia umum jika penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi sering dikaitkan dengan risiko penyakit jantung dan stroke. Namun, tidak hanya itu saja, para pakar kesehatan menyebutkna jika tekanan darah tinggi juga memiliki pengaruh buruh terhadap fungsi kognitif otak.

Menurut Dr dr Yuda Turana, SpS, dari Indonesian Society of Hypertension (InaSH), penyakit tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor risiko terjadinya pikun di usia tua. Hal ini disebabkan karena tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah yang mengurangi suplai oksigen ke otak.

Beliau menjelaskan jika penelitian menyebut bahwa hipertensi yang tidak terkontrol akan mengakibatkan seseorang memiliki fungsi otak yang jelek saat usia lanjut atau fungsi kognitifnya menurun.

Maka dari itu, sangat penting bagi masyarakan untuk mencegah terjadinya hipertensi. dr Yuda menyebutkan bahwa sebagian besar kasus tekanan darah tinggi tidak memiliki gejala. Penderita tekanan darah tinggi yang sudah merasa pusing dan memiliki tekanan darah tinggi secara terus-menerus menandakan sudah adanya kerusakan yang terjadi di otak.

“Kalau sudah mengalami kerusakan target organ otak misalnya, orang bisa terkena stroke atau gangguan kognitif ringan hingga demensia vaskular. Inilah yang menyebabkan pasien hipertensi rentan mengalami penurunan fungsi kognisi di masa tuanya,” papar dokter yang juga pengajar di Fakultas Kedokteran UNIKA Atma Jaya ini.

Rutin mengontrol tekanan darah di rumah merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi hipertensi. dr Yuda juga menyebutkan jika olahraga secara rutin dan teratur juga bisa membantu mengontrol tekanan darah.

Disamping itu, penderita tekanan darah tinggi juga harus membatasia supan garam dan melakukan aktivitas fisik selama 30 menit setiap harinya untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Dengan merubah gaya hidup menjadi lebih sehat, maka Anda bisa menurunkan risiko komplikasi yang bisa timbul akibat tekanan darah tinggi.

Baca juga : Obat Hipertensi yang Aman untuk Jantung

Jenis Olahraga Ini Baik Dilakukan Penderita Hipertensi

Jenis Olahraga Ini Baik Dilakukan Penderita Hipertensi,- Penderita hipertensi sering kali disarankan untuk mengonsumsi obat hipertensi secara rutin dan teratur. Tidak hanya itu, penderita juga selalu diingatkan untuk menjalankan pola hidup sehat dengan mengatur pola makan sehat dan menghindari berbagai faktor yang dapat meningkatkan tekanan darah.

Disamping itu, penderita hipertensi juga disarankan untuk berolahraga secara teratur untuk membantu menurunkan tekanan darah tinggi serta menjaga agar tubuh tetap sehat. Diantara banyaknya jenis olahraga yang bisa dilakukan oleh penderita hipertensi, yoga merupakan salah satu yang baik untuk dilakukan.

Meskipun olahraga ini mulai populer di Indonesia, namun sayangnyaa tidak banyak yang melakukannya. Hal ini disebabkan karena kecenderungan yoga dilakukan dikelas khusus yang memerlukan biaya. Padahal, sebenarnya kita bisa menafaatkan perkembangan teknologi untuk mencari tutorial yoga dan melakukannya sendiri dengan mudah.

Selain baik bagi keshatan mental, yoga juga bisa memberikan manfaat bagi kesehatan, termasuk bagi mereka yang mengidap tekanan darah tinggi atau hipertensi.

Dalam sebuah penelitian yang dipersentasikan di Cardiological Society of India, konferensi kesehatan yang digelar setiap tahun, disebutkan bahwa penderita hipertensi yang melakukan yoga setidaknya 1 jam setiap hari akan menurunkan tekanan darah diastolic dan arterial. Hal ini bisa membantu menurunkan risiko terkena serangan jantung, gagal jantung, dan stroke dengan signifikan.

Pakar kesehatan dari Sir Gangaram Hospital yang ada di New Delhi, India, Ashutosh Angrish, MD, menyebutkan jika penderita pra-hipertensi yang memiliki tekanan darah sistolik diangka 120-139 mmHg dan tekanan darah diastolik diangka 80-89 mmHG, atau tinggal sedikit lagi bisa dianggap sebagai masalah hipertensi, juga sangat disarankan untuk melakukan yoga agar kondisi kesehatannya tidak semakin memburuk.

Dalam penelitian tentang Hatha Yoga, salah satu jenis yoga yang mengombinasikan peregangan, latihan pernapasan, dan meditasi, Angrish menyebutkan bahwa terdapat 60 partisipan dengan usia 45 tahun yang dilibatkan dalam penelitian tersebut melakukan perubahan gaya hidup karena mengalami kondisi pra-hipertensi.

Setengah dari para partisipan tersebut mengikuti kelas yoga 1 jam setiap hari selama 1 bulan. Setelahnya, mereka melakukan yoga dengan durasi yang sama di rumah di bulan berikutnya. Hasilnya adalah, para partisipan yang mengubah gaya hidup namun tidak melakukan yoga sam sekali tidak mengalami penurunan tekanan darah, kontras dengan mereka y ang melakukan yoga dimana tekanan darahnya menurun sampai 4-5 mmHg.

Walaupun perubahan tekanan darah terlihat kecil, namun perbaikan kondisi tekanan darah ini ternyata bisa menurunkan risiko terkena stroke hingga 15% dan penyakit jantung sampai 6%. Angrish pun sangat merekomendasikan yoga sebagai salah satu jenis olahraga yang baik dilakukan penderita hipertensi. Semoga bermanfaat.

Manfaat Sepak Bola untuk Terapi Hipertensi pada Wanita

Manfaat Sepak Bola untuk Terapi Hipertensi pada Wanita,- Sepak bola merupakan salah satu jenis olahraga yang populer di dunia dan banyak digemari oleh semua kalangan, baik itu pria ataupun wanita. Selain menyenangkan, ternyata bermain sepak bola juga memiliki beberapa manfaat bagi tubuh, terutama bagi wanita yang memiliki kondisi hipertensi atau tekanan darah tinggi.

Manfaat Sepak Bola untuk Terapi Hipertensi pada Wanita

Berawal dari ajang Piala Dunia pada tahun 2014 di Brazil, ternyata membawa dampak yang baik untuk para wanita atau ibu-ibu yang berusia 35 sampai 50 tahun. Hal ini disebabkan karena adanya penelitian untuk para wanita di usia tersebut, khususnya bagi mereka yang memiliki kondisi tekanan darah tinggi.

Penelitian yang dilakukan oleh Profesor Krustrup dari University of Southern Denmark dan Asosiasi Sepak Bola Denmark menemukan adanya manfaat sepak bola untuk terapi hipertensi pada wanita.

Studi yang juga diterbitkan dalam Journal of Medicine and Science ini menjabarkan beebrapa efek bermanfaat seperti hubungan detak jantung, stamina, dan kekuatan peserta wanita. Selain itu, bermain sepak bola untuk wanita juga dapat memperbaiki suasana hati, mendukung sosialisasi, dan menunjang kesehatan para wanita yang bermain sepak bola.

Penelitian sepak bola untuk wanita yang dilakukan selama 15 minggu ini membawa dampak positif yang baik untuk tubuh mereka. Diketahui ternyata tekanan darah sistolik (atas) dan diastolik (bawah) berkurang 12/6 mmHg. Selain itu, kadar lemak dalam tubuh juga berkurang sejumlah 2,3 kg.

Selain efek yang mengesankan pada tekanan darah dan komposisi tubuh, Profesor Krustrup juga melihat adanya penurunan kolesterol dan peningkatan kebugaran fisik yang besar akibat latihan sepak bola. Hasil akhir juga menunjukkan bahwa dengan berlari-larian mengejar bola bersama-sama merupakan cara yang tepat untuk menurunkan tekanan darah. Hal ini sama efektifnya seperti minum obat untuk menurunkan tekanan darah bagi mereka yang mengidap hipertensi.

Walaupun begitu, main sepakbola tidak bisa menggantikan konsumsi obat hipertensi dari dokter atau membuat Anda jadi lalai menjaga pola makan sehat yang ramah bagi jantung dan pembuluh darah.

Untuk mengendalikan tekanan darah tinggi, imbangi juga sepak bola dengan tindakan-tindakan berikut ini :

  • Batasi asupan garam dan natrium

Mengurangi asupan makanan yang mengandung garam dan natrium tinggi dapat membantu penderita hipertensi untuk mengontrol tekanna darah. Batasilah asupan natrium hanya sekitar 2.400 mg atau setara dengan 6 gram garam (sekitar 1 sendok teh). Kurangi tambahan garam pada makanan Anda dan batasi konsumsi makanan tinggi natrium, seperti makanan kemasan, makanan kalengan, dan makanan olahan (makanan beku).

  • Mengatur pola makan

Makanan dapat memengaruhi tekanan darah. Maka dari itu, sebaiknya jaga asupan makanan Anda. Perbanyaklah konsumsi sayuran, buah-buahan, makanan sumber protein rendah lemak (seperti ikan, tahu, dan tempe), serta biji-bijian (seperti gandum). Selain itu, pilihlah produk susu rendah lemak dan batasi asupan makanan yang mengandung lemka jenuh dan lemak trans, seperti makanan yang digoreng atau junk food.

  • Jaga berat badan tetap ideal

Kelebihan berat badan atau obesitas dapat meningkatkan risiko hipertensi. Sehingga menurunkan berat badan perlu dilakukan agar tekanan darah lebih terkendali.

Baca juga : 

Hipertensi pada Wanita Bisa Memicu Penyakit Serius
Obat Hipertensi untuk Wanita Pasca Melahirkan
Wanita dengan PMS Berisiko Alami Hipertensi