Waspadai Risiko Berikut Jika Alami Hipertensi Sebelum Usia 40

Waspadai Risiko Berikut Jika Alami Hipertensi Sebelum Usia 40,- www.obathipertensi.info – Mungkin banyak yang berpikir bahwa hipertensi atau tekanan darah tinggi biasanya dialami oleh mereka yang berusia lanjut. Padaha;. faktanya kini semakin banyak kasus hipertensi yang menyerang orang-orang yang berusia muda atau kurang dari 40 tahun.

Jika hipertensi menyerang pada saat usia produktif, maka sebaiknya waspada. Pasalnya hipertensi yang menyerang orang-orang dengan usia kurang dari 40 tahun ini berisiko lebih besar memicu timbulnya penyakit kardiovaskular.

Disebutkan bahwa hipertensi yang terjadi pada usia kurang dari 40 tahun akan membuat penderitanya lebih rentan terkena gagal jantung, stroke, dan penyumbatan pembuluh darah. Hal ini terungkap dari sebuah penelitian yang dilakukan di Duke Health, Raleigh, North Carolina, Amerika Serikat.

Risiko Alami Hipertensi Sebelum Usia 40

Dalam penelitian ini, sekitar 4.851 partisipan dengan usia sekitar 18 samapi 30 tahun dilibatkan. Mereka sudah diminta untuk melakukan pengukuran tekanan darah secara rutin sejak tahun 1985. Setelahnya, para partisipan kemudian dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu mereka dengan tekanan darah normal, tekanan darah lebih tinggi namun masih bisa dianggap normal, hipertensi tahap 1, dan hipertensi tahap 2.

Menurut hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association, disebutkan bahwa mereka yang memiliki tekanan darah normal memiliki risiko terkena penyakit kardiovaskular lebih rendah dibandingkan dengan partisipan dari 3 kelompok lainnya.

Peneliti utama, Yuichiro Yano, mengungkapkan, walaupun penelitian ini masih dalam tahap observasional, namun hal ini menunjukkan fakta bahwa tekanan darah di usia mudah memang cenderung meningkatkan risiko terkena penyakit berbahaya sehingga sebaiknya harus dihindari.

Melihat adanya fakta ini, para pakar kesehatan menyarankan untuk selalu menjaga tekanan darah dalam kondisi normal sejak usia muda. Caranya yaitu dengan selalu menerapkan pola makan sehat dengan kadar gizi yang seimbang.

Selain itu, hindari kebiasaan buruk (seperti merokok dan konsumsi minuman beralkohol), rajin berolahraga, kurangi asupan darah dan lemak dengan berlebihan, minum cukup setiap hari, rajin berolahraga, tidur cukup setiap malam, dan kelola stres dengan lebih baik.

Dengan melakukan berbagai hal tersebut, maka risiko untuk terkena penyakit mematikan, seperti penyakit jantung, stroke, aterosklerosis, dan penyakit kardiovaskular lainnya akan lebih kecil. Tidak hanya itu, pola hidup sehat tersebut juga bisa membantu kita terhindar dari kematian dini akibat penyakit tersebut.

Kesehatan Mulut Tingkatkan Efektivitas Pengobatan Hipertensi

Kesehatan Mulut Tingkatkan Efektivitas Pengobatan Hipertensi,- Menjaga kesehatan mulut merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Hal ini disebabkan karena kesehatan mulut yang buruk bisa menimbulkan berbagai komplikasi penyakit membahayakan.

Bahkan, sebuah studi menemukan bahwa kesehatan mulut tingkatkan efektivitas pengobatan hipertensi atau tekanan darah tinggi. Benarkah?

Pengobatan Hipertensi

Studi yang berdasarkan pada tinjauan riwayat medis dan gigi dari 3.600 prang dengan tekanan darah tinggi tersebut menemukan bahwa partisipan yang emmiliki gusi sehat memiliki tekanan darah yang lebih rendah. Selain itu, respons tubuh terhadap obat-obatan juga jauh lebih baik.

Sedangkan mereka yang memiliki masalah gigi atau periodontitis 20% lebih rendah untuk mencapai rata-rata tekanan darah dibandingkan dengan mereka yang menjaga kesehatan mulut.

Pemimpin penelitian, Davide Pietropaoli menyarankan jika dokter harus memperhatikan kesehatan mulut pasien, terutama bagi mereka yang menerima perawatan untuk hipertensi, dan mendesak mereka yang memiliki tanda-tanda penyakit periodontal untuk mencari perawatan gigi.

Beliau menambahkan, demikian juga ahli kesehatan gigi harus sadar bahwa kesehatan mulut sangat diperlukan untuk kesehatan fisiologis secara keseluruhan, termasuk status kardiovaskular.

Kisaran tekanan darah target untuk penderita hipertensi adalah kurang dari 130/80 mmHg, sesuai dengan rekomendasi terbaru dari American Heart Association / American College of Cardiology.

Dalam penelitian tersebut, pasien dengan periodontitis berat memiliki tekanan sistolik rata-rata 3 mmHg lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang memiliki kesehatan mulut yang baik. Tekanan sistolik, angka yang lebih tinggi dalam pembacaan tekanan darah, menunjukkan tekanan darah terhadap dinding arteri.

Walaupun kecil, peneliti menyebutkan jika perbedaan 3 mmHg tersebut bisa dicapai dengan mengurangi asupan garam sebanyak 6 gram per hari (sama dengan 1 sendok teh garam, atau 2,4 gram natrium).

Mengidap penyakit periodontal bahkan mempelebar kesenjangan lebih jauh, hingga 7 mmHg, pada penderita hipertensi yang tidak diobati. Obat tekanan darah tinggi memang dapat menyempitkan celah hingga turun menjadi 3 mmHg, tetapi tidak sepenuhnya menghilangkannya. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit periodontal bisa menganggu efektivitas terapi tekanan darah tinggi.

Perlu diingat, penderita tekanan darah tinggi dan dokter yang merawat mereka harus sadar bahwa kesehatan mulut yang baik mungkin sama pentingnya dalam mengendalikan kondisi seperti beberapa intervensi gaya hidup yang diketahui bisa membantu mengontrol tekanan darah.

Beberapa gaya hidup sehat yang bisa dilakukan tersebut yaitu diet rendah garam, olahraga secara teratur, dan pengendalian berat badan agar tetap normal. Semoga bermanfaat.

Benarkah Musik Bisa Tingkatkan Efek Obat Anti-hipertensi?

Benarkah Musik Bisa Tingkatkan Efek Obat Anti-hipertensi?,- Selain mengatur pola makan dan gaya hidup, penderita hipertensi memang disarankan untuk selalu mengonsumsi obat hipertensi secara rutin setiap harinya. Hal ini bertujuan untuk membantu mengontrol tekanan darah agar tetap normal.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi hingga saat ini masih menjadi ancaman kesehatan. Selain bisa menyebabkan sejumlah risiko penyakit seperti jantung dan stroke, pengobatannya juga dilakukan dalam jangka waktu yang lama, bahkan hingga seumur hidup.

Agar pengobatan hipertensi bisa lebih efektif, penderita hipertensi bisa mendengarkan musik untuk membantu meningkatkan efek obat anti-hipertensi. Apa bisa?

Musik Tingkatkan Efek Obat Anti-hipertensi

Manfaat Musik untuk Bantu Tingkatkan Efek Obat Anti-hipertensi

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports, disebutkan bahwa musik dapat meningkatkan efek obat anti-hipertensi secara signifikan, dimana musik memberi efek menguntungkan obat dalam waktu singkat untuk mengontrol tekanan darah tinggi.

Koordinator studi Vitor Engracia Valenti, Profesor di Universitas Negeri Sao Paulo (UNESP), Brasil, menyebutkan bahwa musik dapat meningkatkan denyut jantung dan meningkatkan efek anti-hipertensi selama satu jam setelah diberikan pada paenderita.

Para peneliti melakukan percobaan untuk mengukur efek stimulus pendengaran musikal yang terkait dengan obat anti-hipertensi pada denyut jantung dan tekanan darah pada sekelompok kecil penderita hipertensi yang terkontrol dengan baik. Setelah minum obat anti-hipertensi oral, penderita diminta untuk mendengarkan musik instrumental melalui earphone selama 60 menit dengan volume yang sama.

Sebagai kontrol, mereka menjalani penelitian yang sama pada hari lain, namun earphone tidak dinyalakan. Variabilitas denyut jantung diukur ketika istirahat dan pada 20, 40, dan 60 menit setelah pemberian obat oral. Beberapa teknik statistik dan matematika digunakan untuk mendeteksi perbedaan antara denyut jantung pada waktu yang berbeda, dengan presisi dan kepekaan yang tinggi.

Baca juga : Dampak Penggunaan Obat Anti-hipertensi Terhadap Ginjal

Analisis data menunjukkan denyut jantung berkurang secara signifikan tepat 60 menit setelah pengobatan ketika penderita mendengarkan musik. Namun sebaliknya, denyut jantung tidak turun secara signifikan ketika mereka tidak mendengarkan musik. Tekanan darah juga merespon lebih kuat terhadap obat ketika pasien mendengarkan musik.

Berdasarkan temuan ini, peneliti menyimpulkan bahwa musik bisa merangsang sistem saraf parasimpatik, meningkatkan aktivitas gastrointestinal dan mempercepat penyerapan obat anti-hipertensi serta mengintensifkan efeknya pada detak jantung. Sistem saraf simpatik dan parasimpatetik membentuk saraf otonom yang mempertahankan homeostasis.

Sistem saraf simpatik mempercepat denyut jantung, menyempitkan pembuluh darah dan meningkatkan tekanan darah. Selain itu, sistem saraf parasimpatetik bertugas untuk emngontrol tubuh saat istirahat, memperlambat jantung, menurunkan tekanan darah dan menstabilkan gula darah juga adrenalin.

Nah, jadi selain dapat menghibur diri, mendengarkan musik juga bisa membantu mengoptimalkan efek obat anti-hipertensi secara signifikan. Namun, tidak semua jenis musik memiliki pengaruh yang sama. Dari banyak pecobaan yang dilakukan para ahli kesehatan, musik klasik terbukti bisa menenangkan. Semoga bermanfaat.

Mewaspadai Kondisi Morning Surge Pada Hipertensi dan Bahayanya

Mewaspadai Kondisi Morning Surge Pada Hipertensi dan Bahayanya,- Apakah Anda pernah mengalami tekanan darah melonjak ketika diukur di pagir hari? Kondisi ini biasa disebut dengan morning surge. Kondisi ini merupakan salah satu masalah kesehatan yang rentan menyerang penderita hipertensi. Morning surge ditandai dengan melonjaknya tekanan darah di pagi hari.

Morning surge ini harus menjadi alarm bagi penderita hipertensi, terutama yang sudah berusia lanjut. Pasalnya, kondisi ini menjadi penyebab utama terjadinya stroke atau serangan jantung mendadak di pagi hari.

Morning Surge

Walaupun penderita hipertensi memiliki tekanan darah yang normal di siang atau malam hari, namum mereka tetap rentan terkena morning surge. Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2003 silam membuktikan bahwa dalam beberapa kasus, perbedaan tekanan darah saat pagi hari dan malam hari bisa mencapai 55 mmHg. Hal inilah yang bisa meningkatkan risiko terkena penyakit berbahaya.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa morning surge cenderung lebih sering menyerang orang Asia dibandingkan dengan orang Eropa. Oleh karena itu, penderita hipertensi sangat disarankan untuk mengukur tekanan darahnya secara rutin dan memiliki alat pengukur tekanan darah sendiri di rumah agar selalu mengontrol kondisi kesehatannya.

Dilansir dari NCBI, dari penelitian sebelumnya diketahui bahwa karakteristik tekanan darah di pagi hari dihubungkan dengan meningkatnya cedera organ. Termasuk dalam faktor risiko ini adalah mereka yang berusia tua, orang yang mengonsumsi alkohol dan atau rokok, waktu tidur yang lebih lama dan bangun terlambat serta cuaca dingin.

Selain cedera organ dalam tubuh, timbulnya hormon kortisol, hormon yang membuat kita terbangun dan waspada di pagi hari juga ikut mempengaruhi kondisi tekanan darah. Hormon ini dikenal secara luas sebagai hormone stress karena diproduksi lebih banyak ketika tubuh mengalami stres, baik fisik ataupun emosional.

Mengingat adanya kemungkinan hal ini bisa menyebabkan penyakit berbahaya, maka penderita hipertensi yang sudah mengalami morning surge sebaiknya segera memeriksakan kondisi ini ke dokter demi mendapat penanganan serta obat hipertensi yang tepat.

Pastikan untuk selalu mengonsumsi obat hipertensi yang telah diresepkan decara rutin untuk menjaga tekanan darah tetap normal dan tidak mengalami lonjakan yang berlebih. Tidak hanya itu, penderita hipertensi juga harus benar-benar memperhatikan kesehatannya dengan menjaga pola makan, pola hidup dan melakukan pengukuran tekanan darah secara teratur di rumah.

Semoga bermanfaat.

Inilah Pantangan yang Harus Dihindari Penderita Hipertensi

Inilah Pantangan yang Harus Dihindari Penderita Hipertensi,- Para penderita hipertensi atau tekanan darah tinggi sering kali disarankan untuk mengonsumsi obat hipertensi secara rutin setiap harinya, agar tekanan darah bisa terkontrol. Namun, selain itu, biasanya dokter juga akan menyarankan penderita untuk mengatur pola makan sehat dan menjalankan gaya hidup sehat.

Pasalnya, mengonsumsi makanan dengan nutrisi yang tidak terjaga berpotensi memperburuk kondisi penyakit yang dialami. Tidak sedikit orang yang mengabaikan jumlah kalori dalam makanan yang dikonsumsi. Selain itu, berat badan yang tidak ideal juga bisa berdampak buruk bagi mereka yang mengidap hipertensi.

Padahal, menjaga berat badan ideal atau pun mengurangi berat badan bisa membantu penderita mengontrol tekanan darah tinggi.

Selain jumlah kalori, penderita juga harus memperhatikan asupan garam. Pasalnya garam mengandung natrium yang jika kadarnya meningkat dalam darah, maka bisa memengaruhi tekanan darah. Bagi penderita hipertensi, disarankan untuk tidak mengonsumsi lebih dari 1500 mg natrium per hari.

Pantangan Hipertensi

Pantangan yang Harus Dihindari Penderita Hipertensi

Tidak hanya mengontrol asupan makanan dengan mengonsumsi makanan sehat saja, penderita hipertensi juga disarankan untuk menghindari beberapa jenis makanan yang berpotensi meningkatkan tekanan darah.

Berikut ini pantangan yang harus dihindari penderita hipertensi yang perlu diketahui, yaitu diantaranya :

  • Makanan kemasan

Pizza yang dibeli dalam kemasan beku, umumnya lebih berisiko karena ditambahkan lebih banyak garam dibandingkan dengan pizza yang langsung dikonsumsi. Padahal, garam dan natrium sangat berbahaya jika dikonsumsi secara berlebihan, terutama bagi penderita hipertensi.

Selain itu, makanan dalam kemasan juga perlu diperhatikan konsumsinya, termasuk sup atau saus kemasan. Dalam satu kaleng supo kemasan terkandung natrium hingga 900-2.000 mg. Disarankan untuk mengonsumsi sup atau saus rendah garam yang dibuat sendiri dari bahan-bahan segar.

  • Acar

Mungkin banyak yang menyukai acar sayuran sebagai pelengkap makanan. Namun perlu diketahui, biasanya acar diberi garam agar bisa tahan lama dan enak. Kandungan garam berlebih ini tentu bisa berdampak negatif bagi kesehatan penderita hipertensi.

Sebagai langkah antisipasi, acar yang bisa dijadikan pilihan adalah acar yang mengandung garam dibawah 100 mg.

  • Makanan dengan kandungan lemak jenuh dan lemak trans

Pantangan hipertensi selanjutnya yaitu makanna dengan kandungan lemak jenuh dan lemak trans. Lemak jenuh dan lemak trans merupakan musuh utama bagi penderita hipertensi. Kulit ayam merupakan salah satu makanan yang kaya akan lemak jenuh dan banyak disukai.

Selain itu, beberapa jenis makanan yang kaya kandungan lemak jenuh lainnya termasuk daging merah, mentega, dan susu tinggi lemak.

Mengonsumsi lemak jenuh dan lemak trans terlalu banyak merupakan kabar buruk bagi penderita hipertensi. Pasalnya keduanya bisa meningkatkan kandungan kolesterol jahat dalam tubuh. Meningkatnya kadar kolesterol jahat ini bisa membuat kondisi penderita hipertensi semakin buruk, dan rentan terkena penyakit jantung koroner.

  • Kopi dan minuman berkafein lainnya

Selain makanan, penderita hipertensi juga harus menghindari beberapa jenis minuma, yaitu diantaranya kopi, teh, dan soda. Karena ketiga jenis minuman tersebut mengandung kafein yang bisa berdampak buruk bagi penderita hipertensi.

Kafein merupakan zat yang bisa menaikkan kadar tekanan darah secara sementara. Alangkah baiknya penderita hipertensi berkonsultasi dengan dokter apakah Anda perlu membatasi minuman berkafein atau tidak.

Namun, sebaiknya penderita hipertensi membatasi minuman tersebut hanya sekitar 200 mg per hari. Jumlah tersebut setara dengan secangkir kopi racik (brewed coffee) dengan kapasitas 355 ml.

Menjalani gaya hidup sehat merupakan salah satu kunci bagi penderita hipertensi agar tekanan darah tetap stabil. Selain menghindari beberapa pantangan makanan bagi penderita hipertensi tersebut, Anda juga perlu berolagraga secara teratur, menurunkan berat badan berlebih, serta mengelola stres dengan baik. Semoga bermanfaat.

Benarkah Mastrubasi Berbahaya untuk Penderita Hipertensi?

Benarkah Mastrubasi Berbahaya untuk Penderita Hipertensi?,- www.obathipertensi.info – Tidak sedikit orang yang melakukan mastrubasi agar bisa mendapatkan kepuasan seksual secara solo tanpa perlu bantuan orang lain. Walaupun ini terlihat sebagai tindakan yang tidak etis, namun pakar kesehatan menyebutkan bahwa melakukan mastrubasi bisa memberikan manfaat kesehatan.

Akan tetapi, sebaiknya Anda tidak melakukannya secara sering, karena sebagian pakar menyebutkan jika kebiasaan ini bisa memicu masalah tekanan darah tinggi atau hipertensi. Terlebih lagi bagi mereka yang telah mengidap hipertensi, melakukan mastrubasi disebutkan bisa menimbulkan bahaya.

Perlu diketahui, bukan mastrubasi itu sendiri yang memicu tekanan darah tinggi, tetapi ejakulasi atau orgasmelah yang bisa memicu kenaikan tekanan darah. Maka dari itu, mastrubasi bisa menjadi masalah terutama bagi penderita hipertensi.

Jika tekanan darah tidak terkontrol, maka hal ini bisa meningkat ketika Anda berejakulasi. Maka dari itu, bagi pasien dengan risiko tinggi, bahkan bisa mengalami gagal jantung atau stroke.

Jadi, apakah penderita hipertensi harus menghindari mastrubasi ?

Bagi penderita hipertensi, bukan berarti mastrubasi dilarang sama sekali. Anda hanya harus tahu bagaimana cara mengontrol tekanan darah. Selain itu, patuhilan pengobatan hipertensi dan lakukan gaya hidup sehat untuk menurunkan risikonya.

Perlu diketahui, ketika Anda berejakulasi atau mencapai orgasme karena dorongan adrenalin, fluktuasi tekanan darah merupakan hal yang normal. Hal ini biasa terjadi pada semua rang.

Ketika bercinta atau mastrubasi, dua hormon akan diproduksi, yaitu epinefrin dan norepinefrin. Kedua hormon tersebut bertanggungjawab terhadap peningkatan dalam tekanan darah dan juga peningkatan detak jantung.

Menurut beberapa ahli kesehatan, baik pria ataupun wanita bisa mengalami tekanan darah tinggi setidaknya selama 10 menit setelah mencapai puncak kenikmatan.

Bagi Anda yang tidak memiliki hipertensi tidak perlu khawatir, karena mastrubasi tidak akan menimbulkan masalah kesehatan ini. Mastrubasi hanya akan meningkatkan tekanan darah, itupun hanya sementara. Meskipun Anda mengidap hipertensi, pastikan kondisi Anda terkendali.

Untuk memastikan kondisi Anda terkontrol, maka Anda harus berkonsultasi dengan dokter untuk pemeriksaan secara rutin dan menerapkan gaya hidup sehat. Jangan lupa juga untuk menghentikan kebiasaan merokok dan konsumsilah makanan sehat untuk mendapatkan gaya hidup yang sehat.

Apa Benar Diet Keto Aman untuk Penderit Hipertensi?

Apa Benar Diet Keto Aman untuk Penderit Hipertensi?,- Meskipun termasuk penyakit yang umum terjadi, namun Anda tidak boleh menganggap sepele penyakit hipertensi. Pasalanya, hipertensi termasuk salah satu faktor risiko dari berbagai penyakit, seperti penyakit jantung, stroke, penyakit ginjal, dan lainnya.

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan tekanan darah meningkat, salah satunya yaitu makanan. Dari beberapa referensi menunjukkan bahwa hipertensi dengan pola makan dan jensi makanan yang dikonsumsi memiliki hubungan yang sangat erat. Bahkan, sebuah studi yang dilakukan oleh Framingham Women’s Health menunjukkan jika orang yang suka mengonsumsi minuman ringan dalam kemasan rata-rata memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak mengonsumsinya sama sekali.

Maka dari itu, tidak sedikit penderita hipertensi yang disarankan untuk menjalankan diet agar tekanan darahnya tetap normal. Salah satu jenis diet yang disebutkan baik bagi penderita hipertensi yaitu diet keto.

diet keto

Apa itu diet keto ?

Diet ketogenic atau diet keto saat ini memang sedang populer. Diet keto berfokus pada metode rendah karbohidrat dan mengonsumsi makanan tinggi lemak serta moderat-protein. Tapi, apakah benar diet keto aman untuk penderita hipertensi ?

Diet keto aman dilakukan oleh penderita hipertensi sebenarnya bukan karena metode dietnya, melainkan karena penurunan berat badan yang dihasilkan.

Dokter spesialis jantung dan berat badan, Luiza Petre menyebutkan, jika kelebihan berat badan atau obesitas merupakan salah satu penyebabkan hipertensi. Selain itu, obesitas juga bisa memicu penyakit lainnya, salah satunya yaitu diabetes.

Ia melanjutkan, intinya adalah diet keto akan meningkatkan tekanan darah, tetapi tidak sebagai efek langsung. Ini melalui manfaat penurunan berat badan tidak langsung.

Seperti studi kasus di Polandia pada 2011 misalnya. Luiza menyebutkan, saat itu dutemukan sekitar 80% dari kasus hipertensi yang disebabkan oleh obesitas. Sedangakn seseorang yang berhasil menurunkan berat badan dengan diet keto memiliki 50% kemungkinan untuk membalikkan tekanan darah tanpa harus mengonsumsi obat hipertensi.

Menurut sebuat penelitian yang dimuat dalam British Journal of Nutrition, orang yang mengikuti diet keto dengan pola rendah karbohidrat, akan menurunkan berat badan lebih banyak jika dibandingkan dengan mereka yang diet rendah lemak. Sehingga penurunan berat badan pun akan lebih efektif dan dapat memperkecil risiko hipertensi akibat obesitas.

Luiza menuturkan, jika diet keto dilakukan tanpa tujuan penurunan berat badan, itu mungkin sama sekali tidak akan memengaruhi tekanan darah. Menurunkan berat badan tetap menjadi intervensi nomor satu, diikuti dengan menurunkan garam dan berolahraga secara teratur untuk meningkatkan tekanan darah.

Walaupun begitu, mungkin diet keto bukan yang terbaik untuk menurunkan berat badan bagi merka yang memiliki tekanan darah tinggi. Akan tetapi, Anda tidak perlu khawatir. Karena ada rekomendasi lain yang bisa dilakukan oleh penderita hipertensi yang ingin menjalankan diet, yaitu dengan melakukan diet DASH.

DASH merupakan singkatan dari Dietary Approaches to Stop Hypertension. Diet DASH bergaya Mediterania dengan kaya akan sayuran, biji-bijian, buah, dan daging tanpa lemak serta rendah garam. Untuk menyempurnakan diet ini, Anda harus benar-benar menghindari makanan olahan.

Jika Anda berniat untuk mencoba melakukan diet keto, alangkah baiknya untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan diet atau ahli diet sebelum membuat perubahan diet yang drastis. Semoga membantu.

Benarkah Kesepian Bisa Memicu Tekanan Darah Tinggi?

Benarkah Kesepian Bisa Memicu Tekanan Darah Tinggi?,- Tidak hanya pola makan atau gaya hidup yang tidak sehat saja yang bisa memicu naiknya tekanan darah tinggi atau hipertensi. Ternyata orang-orang yang merasa kesepian juga memiliki kecenderungan untuk mengalami hipertensi atau tekanan darah tinggi di hari tua.

Sebuah studi yang dilakukan oleh University of Chicago selama 5 tahun menemukan hubungan antara kesepian dan hipertensi. Menurut studi, orang-orang yang berusia 50 tahun ke atas yang menghabiskan waktu sendiri di rumah memiliki peningkatan tekanan darah 2 kali lipat, dibandingkan dengan mereka yang bersosialisasi dengan teman-teman, keluarga, atau kerabatnya.

“Perilaku menyendiri adalah suatu faktor risiko yang unik dan merupakan hak pribadi,” ujar peneliti Dr Louise Hawkley yang memuat temuanya dalam jurnal Psychology and Ageing.

Dr Hawkley, adalah psikolog dari University of Chicago, yang melakukan riset tentang pengaruh kesepian terhadap masalah dan kualitas kesehatan. Tekanan darah tinggi sejak lama dikenal sebagai ancaman kesehatan yang serius. Hipertensi dapat meningkatkan risiko serangan jantung, stroke dan gangguan fungsi ginjal.

Dalam risetnya, Hawkley dan timnya melibatkan sekitar 229 responden yang berusia 50 sampai 68 tahun. Mereka secara acak dikelompokkan dalam studi jangka panjang. Setiap anggota kelompok diminta untuk menjawab serangkaian pertanyaan untuk memastkan apakan mereka merasa mengalami kesepian. Responden juga diminta untuk membuat rata-rata nilai hubungan dengan orang lain melalui beragam topik.

Selama beberapa tahun penelitian dilakukan, Dr Hawkley menemukan adanya hubungan yang jelas antara perasaan kesepian yang dilaporkan di awal studi dengan naiknya tekanan darah selama periode tersebut. Peningkatan yang berhubungan dengan kesepian tidak diobservasi samapi 2 tahun penelitian berjalan, tetapi kemudian terus meningkat sampai 4 tahun kemudian.

Baca juga :

Riset mencatat, responden dengan tingkat kesepian sedang pun bisa terpengaruh. Diantara semua responden, orang yang paling kesepian mengalami kenaikan tekanan darah hingga lebih dari 10% dari tensi rata-rata responden lainnya yang dikukur selama 4 tahun penelitian. Kekhawatiran tentang hubungan sosial dapat dijadikan dasar mengapa mereka yang kesepian mengalami kenaikan tekanan darah.

Sebelumnya, terdapat sebuah studi terpisah yang menyimpulkan bahwa orang-orang yang kesepian berisiko dua kali lebih rentan terkena Alzheimer, yaitu penyakit kepikutan yang ditandai dengan menurunnya fungsi saraf otak yang kompleks dan progresif.

Selain kesepian, ternyata mendengkur juga bisa memengaruhi tekanan darah seseorang. Menurut National Sleep Foundation, saat pernapasan terganggu maka tingkat oksigen di tubuh akan turun.

Pada kondisi tersebut, sistem saraf ikut meningkatkan aliran oksigen ke jantung dan otak, sehingga mengencangkan pembuluh darah dan menyebabkan tekanan darah tinggi.

“Menurunnya kualitas tidur juga dapat memicu pelepasan hormon stres dan meningkatkan detak jantung sampai meningkatkan risiko tekanan darah tinggi atau hipertensi,” tulis National Sleep Foundation.

Anda Penderita Hipertensi? Perhatikan Hal Penting Berikut Ini!

Anda Penderita Hipertensi? Perhatikan Hal Penting Berikut Ini!,- Hipertensi atau dikenal juga dengan tekanan darah tinggi merupakan penyakit yang tergolong silent killer. Hal ini disebabkan karena sebagian besar penderitanya tidak menunjukkan gejala. Maka tak heran jika banyak penderita yang tidak mengetahui jika dirinya mengidap hipertensi.

Hipertensi merupakan penyakit yang cukup banyak dialami oleh masyarakat. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menyatakan, jika angka kejadian hipertensi di Indonesia mencapai 25,8%. Menurut data tersebut, penyakit ini paling banyak dialami oleh kelompok usia 55-64 tahun.

Sedangkan data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2011 mengungkapkan bahwa sebanyak 1 miliar penduduk dunia mengidap hipertensi. Sebesar 2/3 di antaranya berasal dari negara berkembang yang memiliki penghasilan rendah-sedang.

Prevalensi penyakit hipertensi diprediksi akan terus meningkat dan menyebabkan beban kesehatan ataupun ekonomi yang sangat besar. Hal ini disebabkan karena biaya pengobatan hipertensi untuk mencegah komplikasi tergolong mahal.

Maka dari itu, penderita hipertensi dianjurkan untuk benar-benar berusaha agar tekanan darah tetap stabil. Terkait hal ini, terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan penderita hipertensi, diantaranya adalah :

  • Minum obat secara teratur

Sebagian besar penderita hipertensi hanya mengonsumsi obat hipertensi ketika tekanan darah sedang meningkat. Namun perlu diketahui, hal tersebut tidaklah tepat. Penderita harus tetap mengonsumsi obat hipertensi setiap hari, secara rutin dan teratur. Bukan hanya saat serangan terjadi. Ketika penderita memeriksakan diri ke dokter untuk kontrol, dokter akan menurunkan dosis obat jika didapati tekanan darah sudah lebih membaik.

  • Periksa tekanan darah secara teratur

Memeriksakan tekanan darah secara berkala sangat penting bagi penderita hipertensi. Setidaknya mereka harus kontrol ke dokter untuk memeriksakan tekanan darah, sekaligus melakukan konsultasi dan evaluasi kondisi.

Jika tekanan darah masih tinggi, maka dokter mungkin perlu meningkatkan dosis obat yang dikonsumsi atau penambahan jenis obat lain. Jika cara tersebut berhasil membuat tekanan darah stabil, maka penderita hipertensi dapat meneruskan konsumsi obat yang diberikan.

Idealnya, penderita hipertensi dianjurkan untuk membeli tensimeter digital agar dapat mengukur tekanan darah dengan mudah. Dengan mengukur tekanan darah setiap hari, maka penderita hiperensi bisa memantau dan mengontrol stabil atau tudaknya tekanan darah yang dimiliki.

Perlu diketahui, tidak mengontrol tekanan darah dengan baik dapat menyebabkan perjalanan penyakit hipertensi yang semakin berat, sehingga menimbulkan komplikasi yang merusak organ-organ penting didalam tubuh.

  • Mengenali tanda serangan jantung dan stroke

Serangan jantung dan stroke merupakan dua komplikas yang paling sering terjadi pada penderita hipertensi. Oleh karena itu, ada baiknya jika Anda mengenali tanda dan gejalanya untuk berjaga-jaga.

Gejala serangan jantung yaitu ketika Anda merasakan nyeri di dada yang sangat hebat, berat, seperti ditindih, yang dapat menjalar ke lengan, punggung, atau rahang. Selain itu, penderita juga bisa merasakan keringat dingin, sesak napas, muntah, hingga ingin pingsan.

Sedangkan gejala stroke bisa berupa kelemahan satu sisi tubuh (lengan dan tngkai), bicara pelo, mulut mencong, sulit menelan dan minum air, sakit kepala, serta penurunan kesadaran. Jika mengalami gejala tersebut, alangkah baiknya untuk segera minta bantuan orang terdekat untuk secepatnya membawa Anda ke rumah sakit.

  • Tetap lakukan gaya hidup sehat

Walaupun sudah mengonsumsi obat hipertensi secara teratur, bukan berarti Anda boleh melakukan apapun yang Anda inginkan. Sejatinya, penderita hipertensi tetap perlu melakukan pola hidup sehat, seperti pemilihan makanan yang baik dan rutin olahraga, sambil mengonsumsi obat tekanan darah tinggi yang diberikan dokter. Bahkan, jika tekanan darah tinggi masih ‘mepet’, dokter dapat menganjurkan untuk melakukan pola hidup sehat dan tidak perlu mengonsumsi obat.

Pilihan Menu Sahur Sehat dan Lezat Bagi Penderita Hipertensi

Pilihan Menu Sahur Sehat dan Lezat Bagi Penderita Hipertensi,- Salah satu penyebab puasa tidak lancar adalah kesalahan dalam memilih menu sahur. Pasalnya, sahur adalah waktu makan yang cukup penting bagi orang yang sedang berpuasa. Agar puasa tetap lancar, Anda perlu mengetahui menu sahur sehat dan tepat, terutama bagi Anda yang mengidap hipertensi atau tekanan darah tinggi.

Memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Anda yang berpuasa. Hal ini disebabkan karena penderita hiperetnsi sering kali mengeluh mudah pusing dan mual. Ini tentu akan mengganggu hari-hari puasa Anda.

Walaupun begitu, dilansir dari NHS Inggris, orang dengan tekanan darah tinggi boleh-boleh saja berpuasa. Namun, dengan catatan kondisi tubuh stabil. Maka dari itu, Anda dianjurkan untuk memperhatikan asupan makan sehari-hari, terutama saat sahur, untuk mencegah gejala hipertensi waktu sewaktu-waktu.

Selain untuk membantu menurunkan tekanan darah, pemilihan makanan yang tepat saat sahur juga dapat membantu meningkatkan energi saat berpuasa dan mengurangi risiko edema atau penimbunan cairan dalam tubuh.

Jika pada artikel sebelumnya kita telah memberikan informasi seputar menu buka puasa sehat yang tepat untuk penderita hipertensi, maka berikut ini merupakan beberapa pilihan menu sahur sehat dan lezat bagi penderita hipertensi yang bisa menjadi alternatif bagi Anda, yaitu :

  • Ikan sarden

Ikan sarden merupakan salah satu jenis ikan yang baik dikonsumsi sebagai menu sahur untuk penderita hipertensi. Hal ini disebabkan karena kandungan asam lemak omega-3 yang dimilikinya dapat membantu mengendalikan tekanan darah, mengurangi peradangan, dan mencegah penyakit jantung.

Agar sahur lebih sehat, lengkapi ikan sarden ini dengan sajian nasi merah yang mengandung tinggi serat. Ini akan membuat Anda merasa kenyang lebih lama dan tak mudah lapar saat puasa.

  • Oatmel susu dan buah

Oatmela saja mungkin tidak cukup untuk sahur Anda. Namun, oatmeal merupakan salah satu makanan rendah lemak dan natrium yang dapat membantu menurunkan tekanan darah. Selain itu, oatmeal juga mengandung serat tinggi sehingga dapat membuat Anda kenyang lebih lama saat puasa.

Jika ingin lebih sehat, maka tambahkan juga buah-buahan yang baik untuk penderita hipertensi, seperti pisang, alpukat, atau beri-berian. Segelas susu juga bisa melengkapi menu sahur Anda.

  • Nasi goreng sayur

Jika Anda mencari menu sahur sehat dan lezat bagi penderita hipertensi yang praktis, maka nasi goreng adalah jawabannya. Ya, nasi goreng merupakan salah satu makanan yang mudah dibuat dalam waktu singkat dan dapat dikreasikan dengan berbagai bahan makanan sehat lainnya.

Saat menggoreng, gunakanlah minyak zaitu yang kaya lemak sehat dan antioksidan sehingga bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah. Bahkan, sebuah kajian ilmiah yang dilakukan di Spanyol pada tahun 2015 menunjukkan bahwa minyak zaitu dapat membantu mengurangi risiko penyakit jantung.

Agar semakin sehat, Anda bisa menambahkan beberapa jenis sayuran pada nasi goreng Anda. Misalnya brokoli, sawi, kacang polong, dan sayuran lainnya. Pasalnya, sayuran hijau mengandung tinggi kalium yang dapat membantu menyingkirkan kelebihan garam dalam tubuh melalui urine. Ini tentu bermanfaat untuk menjaga tekanan darah tetap stabil selama berpuasa.

  • Sandwich roti gandum

Menu sahur untuk penderita hiperetnsi yang terakhir adalah roti gandum. Dr. Lu Wang, seorang peneliti asal harvard Medical School di Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa kandungan serat dan nutrisi pada gandum dapat membantu mencegah lonjakan tekanan darah. Selain itu, gandum utuh juga dapat mengandung vitamin B dan karbohidrat kompleks.

Terlebih lagi, roti gandum memiliki indeks glikemik yang tergolong rendah sehingga akan diserap lebih lama oleh tubuh. Akibatnya, Anda tidak akan mudah merasa lapar saat puasa.

Setangkup roti ditambah telur dadar atau telur ceplok sudah bisa menjadi hidangan yang menggugah selera saat sahur. Namun, gunakan bagian putih telurnya saja yang memiliki kadar kolesterol rendah sehingga tidak membuat tekanan darah naik.

Untuk melengkapi kebutuhan vitamin dan mineral, tambahkan juga berbagai jenis sayuran segar seperti bayam, tomat, timun, atau selada. Dengan begitu, maka menu sahur untuk penderita hipertensi ini akan semakin lezat dan juga tetap sehat.