Benarkah Mastrubasi Berbahaya untuk Penderita Hipertensi?

Benarkah Mastrubasi Berbahaya untuk Penderita Hipertensi?,- www.obathipertensi.info – Tidak sedikit orang yang melakukan mastrubasi agar bisa mendapatkan kepuasan seksual secara solo tanpa perlu bantuan orang lain. Walaupun ini terlihat sebagai tindakan yang tidak etis, namun pakar kesehatan menyebutkan bahwa melakukan mastrubasi bisa memberikan manfaat kesehatan.

Akan tetapi, sebaiknya Anda tidak melakukannya secara sering, karena sebagian pakar menyebutkan jika kebiasaan ini bisa memicu masalah tekanan darah tinggi atau hipertensi. Terlebih lagi bagi mereka yang telah mengidap hipertensi, melakukan mastrubasi disebutkan bisa menimbulkan bahaya.

Perlu diketahui, bukan mastrubasi itu sendiri yang memicu tekanan darah tinggi, tetapi ejakulasi atau orgasmelah yang bisa memicu kenaikan tekanan darah. Maka dari itu, mastrubasi bisa menjadi masalah terutama bagi penderita hipertensi.

Jika tekanan darah tidak terkontrol, maka hal ini bisa meningkat ketika Anda berejakulasi. Maka dari itu, bagi pasien dengan risiko tinggi, bahkan bisa mengalami gagal jantung atau stroke.

Jadi, apakah penderita hipertensi harus menghindari mastrubasi ?

Bagi penderita hipertensi, bukan berarti mastrubasi dilarang sama sekali. Anda hanya harus tahu bagaimana cara mengontrol tekanan darah. Selain itu, patuhilan pengobatan hipertensi dan lakukan gaya hidup sehat untuk menurunkan risikonya.

Perlu diketahui, ketika Anda berejakulasi atau mencapai orgasme karena dorongan adrenalin, fluktuasi tekanan darah merupakan hal yang normal. Hal ini biasa terjadi pada semua rang.

Ketika bercinta atau mastrubasi, dua hormon akan diproduksi, yaitu epinefrin dan norepinefrin. Kedua hormon tersebut bertanggungjawab terhadap peningkatan dalam tekanan darah dan juga peningkatan detak jantung.

Menurut beberapa ahli kesehatan, baik pria ataupun wanita bisa mengalami tekanan darah tinggi setidaknya selama 10 menit setelah mencapai puncak kenikmatan.

Bagi Anda yang tidak memiliki hipertensi tidak perlu khawatir, karena mastrubasi tidak akan menimbulkan masalah kesehatan ini. Mastrubasi hanya akan meningkatkan tekanan darah, itupun hanya sementara. Meskipun Anda mengidap hipertensi, pastikan kondisi Anda terkendali.

Untuk memastikan kondisi Anda terkontrol, maka Anda harus berkonsultasi dengan dokter untuk pemeriksaan secara rutin dan menerapkan gaya hidup sehat. Jangan lupa juga untuk menghentikan kebiasaan merokok dan konsumsilah makanan sehat untuk mendapatkan gaya hidup yang sehat.

Apa Benar Diet Keto Aman untuk Penderit Hipertensi?

Apa Benar Diet Keto Aman untuk Penderit Hipertensi?,- Meskipun termasuk penyakit yang umum terjadi, namun Anda tidak boleh menganggap sepele penyakit hipertensi. Pasalanya, hipertensi termasuk salah satu faktor risiko dari berbagai penyakit, seperti penyakit jantung, stroke, penyakit ginjal, dan lainnya.

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan tekanan darah meningkat, salah satunya yaitu makanan. Dari beberapa referensi menunjukkan bahwa hipertensi dengan pola makan dan jensi makanan yang dikonsumsi memiliki hubungan yang sangat erat. Bahkan, sebuah studi yang dilakukan oleh Framingham Women’s Health menunjukkan jika orang yang suka mengonsumsi minuman ringan dalam kemasan rata-rata memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak mengonsumsinya sama sekali.

Maka dari itu, tidak sedikit penderita hipertensi yang disarankan untuk menjalankan diet agar tekanan darahnya tetap normal. Salah satu jenis diet yang disebutkan baik bagi penderita hipertensi yaitu diet keto.

diet keto

Apa itu diet keto ?

Diet ketogenic atau diet keto saat ini memang sedang populer. Diet keto berfokus pada metode rendah karbohidrat dan mengonsumsi makanan tinggi lemak serta moderat-protein. Tapi, apakah benar diet keto aman untuk penderita hipertensi ?

Diet keto aman dilakukan oleh penderita hipertensi sebenarnya bukan karena metode dietnya, melainkan karena penurunan berat badan yang dihasilkan.

Dokter spesialis jantung dan berat badan, Luiza Petre menyebutkan, jika kelebihan berat badan atau obesitas merupakan salah satu penyebabkan hipertensi. Selain itu, obesitas juga bisa memicu penyakit lainnya, salah satunya yaitu diabetes.

Ia melanjutkan, intinya adalah diet keto akan meningkatkan tekanan darah, tetapi tidak sebagai efek langsung. Ini melalui manfaat penurunan berat badan tidak langsung.

Seperti studi kasus di Polandia pada 2011 misalnya. Luiza menyebutkan, saat itu dutemukan sekitar 80% dari kasus hipertensi yang disebabkan oleh obesitas. Sedangakn seseorang yang berhasil menurunkan berat badan dengan diet keto memiliki 50% kemungkinan untuk membalikkan tekanan darah tanpa harus mengonsumsi obat hipertensi.

Menurut sebuat penelitian yang dimuat dalam British Journal of Nutrition, orang yang mengikuti diet keto dengan pola rendah karbohidrat, akan menurunkan berat badan lebih banyak jika dibandingkan dengan mereka yang diet rendah lemak. Sehingga penurunan berat badan pun akan lebih efektif dan dapat memperkecil risiko hipertensi akibat obesitas.

Luiza menuturkan, jika diet keto dilakukan tanpa tujuan penurunan berat badan, itu mungkin sama sekali tidak akan memengaruhi tekanan darah. Menurunkan berat badan tetap menjadi intervensi nomor satu, diikuti dengan menurunkan garam dan berolahraga secara teratur untuk meningkatkan tekanan darah.

Walaupun begitu, mungkin diet keto bukan yang terbaik untuk menurunkan berat badan bagi merka yang memiliki tekanan darah tinggi. Akan tetapi, Anda tidak perlu khawatir. Karena ada rekomendasi lain yang bisa dilakukan oleh penderita hipertensi yang ingin menjalankan diet, yaitu dengan melakukan diet DASH.

DASH merupakan singkatan dari Dietary Approaches to Stop Hypertension. Diet DASH bergaya Mediterania dengan kaya akan sayuran, biji-bijian, buah, dan daging tanpa lemak serta rendah garam. Untuk menyempurnakan diet ini, Anda harus benar-benar menghindari makanan olahan.

Jika Anda berniat untuk mencoba melakukan diet keto, alangkah baiknya untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan diet atau ahli diet sebelum membuat perubahan diet yang drastis. Semoga membantu.

Benarkah Kesepian Bisa Memicu Tekanan Darah Tinggi?

Benarkah Kesepian Bisa Memicu Tekanan Darah Tinggi?,- Tidak hanya pola makan atau gaya hidup yang tidak sehat saja yang bisa memicu naiknya tekanan darah tinggi atau hipertensi. Ternyata orang-orang yang merasa kesepian juga memiliki kecenderungan untuk mengalami hipertensi atau tekanan darah tinggi di hari tua.

Sebuah studi yang dilakukan oleh University of Chicago selama 5 tahun menemukan hubungan antara kesepian dan hipertensi. Menurut studi, orang-orang yang berusia 50 tahun ke atas yang menghabiskan waktu sendiri di rumah memiliki peningkatan tekanan darah 2 kali lipat, dibandingkan dengan mereka yang bersosialisasi dengan teman-teman, keluarga, atau kerabatnya.

“Perilaku menyendiri adalah suatu faktor risiko yang unik dan merupakan hak pribadi,” ujar peneliti Dr Louise Hawkley yang memuat temuanya dalam jurnal Psychology and Ageing.

Dr Hawkley, adalah psikolog dari University of Chicago, yang melakukan riset tentang pengaruh kesepian terhadap masalah dan kualitas kesehatan. Tekanan darah tinggi sejak lama dikenal sebagai ancaman kesehatan yang serius. Hipertensi dapat meningkatkan risiko serangan jantung, stroke dan gangguan fungsi ginjal.

Dalam risetnya, Hawkley dan timnya melibatkan sekitar 229 responden yang berusia 50 sampai 68 tahun. Mereka secara acak dikelompokkan dalam studi jangka panjang. Setiap anggota kelompok diminta untuk menjawab serangkaian pertanyaan untuk memastkan apakan mereka merasa mengalami kesepian. Responden juga diminta untuk membuat rata-rata nilai hubungan dengan orang lain melalui beragam topik.

Selama beberapa tahun penelitian dilakukan, Dr Hawkley menemukan adanya hubungan yang jelas antara perasaan kesepian yang dilaporkan di awal studi dengan naiknya tekanan darah selama periode tersebut. Peningkatan yang berhubungan dengan kesepian tidak diobservasi samapi 2 tahun penelitian berjalan, tetapi kemudian terus meningkat sampai 4 tahun kemudian.

Baca juga :

Riset mencatat, responden dengan tingkat kesepian sedang pun bisa terpengaruh. Diantara semua responden, orang yang paling kesepian mengalami kenaikan tekanan darah hingga lebih dari 10% dari tensi rata-rata responden lainnya yang dikukur selama 4 tahun penelitian. Kekhawatiran tentang hubungan sosial dapat dijadikan dasar mengapa mereka yang kesepian mengalami kenaikan tekanan darah.

Sebelumnya, terdapat sebuah studi terpisah yang menyimpulkan bahwa orang-orang yang kesepian berisiko dua kali lebih rentan terkena Alzheimer, yaitu penyakit kepikutan yang ditandai dengan menurunnya fungsi saraf otak yang kompleks dan progresif.

Selain kesepian, ternyata mendengkur juga bisa memengaruhi tekanan darah seseorang. Menurut National Sleep Foundation, saat pernapasan terganggu maka tingkat oksigen di tubuh akan turun.

Pada kondisi tersebut, sistem saraf ikut meningkatkan aliran oksigen ke jantung dan otak, sehingga mengencangkan pembuluh darah dan menyebabkan tekanan darah tinggi.

“Menurunnya kualitas tidur juga dapat memicu pelepasan hormon stres dan meningkatkan detak jantung sampai meningkatkan risiko tekanan darah tinggi atau hipertensi,” tulis National Sleep Foundation.

Anda Penderita Hipertensi? Perhatikan Hal Penting Berikut Ini!

Anda Penderita Hipertensi? Perhatikan Hal Penting Berikut Ini!,- Hipertensi atau dikenal juga dengan tekanan darah tinggi merupakan penyakit yang tergolong silent killer. Hal ini disebabkan karena sebagian besar penderitanya tidak menunjukkan gejala. Maka tak heran jika banyak penderita yang tidak mengetahui jika dirinya mengidap hipertensi.

Hipertensi merupakan penyakit yang cukup banyak dialami oleh masyarakat. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menyatakan, jika angka kejadian hipertensi di Indonesia mencapai 25,8%. Menurut data tersebut, penyakit ini paling banyak dialami oleh kelompok usia 55-64 tahun.

Sedangkan data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2011 mengungkapkan bahwa sebanyak 1 miliar penduduk dunia mengidap hipertensi. Sebesar 2/3 di antaranya berasal dari negara berkembang yang memiliki penghasilan rendah-sedang.

Prevalensi penyakit hipertensi diprediksi akan terus meningkat dan menyebabkan beban kesehatan ataupun ekonomi yang sangat besar. Hal ini disebabkan karena biaya pengobatan hipertensi untuk mencegah komplikasi tergolong mahal.

Maka dari itu, penderita hipertensi dianjurkan untuk benar-benar berusaha agar tekanan darah tetap stabil. Terkait hal ini, terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan penderita hipertensi, diantaranya adalah :

  • Minum obat secara teratur

Sebagian besar penderita hipertensi hanya mengonsumsi obat hipertensi ketika tekanan darah sedang meningkat. Namun perlu diketahui, hal tersebut tidaklah tepat. Penderita harus tetap mengonsumsi obat hipertensi setiap hari, secara rutin dan teratur. Bukan hanya saat serangan terjadi. Ketika penderita memeriksakan diri ke dokter untuk kontrol, dokter akan menurunkan dosis obat jika didapati tekanan darah sudah lebih membaik.

  • Periksa tekanan darah secara teratur

Memeriksakan tekanan darah secara berkala sangat penting bagi penderita hipertensi. Setidaknya mereka harus kontrol ke dokter untuk memeriksakan tekanan darah, sekaligus melakukan konsultasi dan evaluasi kondisi.

Jika tekanan darah masih tinggi, maka dokter mungkin perlu meningkatkan dosis obat yang dikonsumsi atau penambahan jenis obat lain. Jika cara tersebut berhasil membuat tekanan darah stabil, maka penderita hipertensi dapat meneruskan konsumsi obat yang diberikan.

Idealnya, penderita hipertensi dianjurkan untuk membeli tensimeter digital agar dapat mengukur tekanan darah dengan mudah. Dengan mengukur tekanan darah setiap hari, maka penderita hiperensi bisa memantau dan mengontrol stabil atau tudaknya tekanan darah yang dimiliki.

Perlu diketahui, tidak mengontrol tekanan darah dengan baik dapat menyebabkan perjalanan penyakit hipertensi yang semakin berat, sehingga menimbulkan komplikasi yang merusak organ-organ penting didalam tubuh.

  • Mengenali tanda serangan jantung dan stroke

Serangan jantung dan stroke merupakan dua komplikas yang paling sering terjadi pada penderita hipertensi. Oleh karena itu, ada baiknya jika Anda mengenali tanda dan gejalanya untuk berjaga-jaga.

Gejala serangan jantung yaitu ketika Anda merasakan nyeri di dada yang sangat hebat, berat, seperti ditindih, yang dapat menjalar ke lengan, punggung, atau rahang. Selain itu, penderita juga bisa merasakan keringat dingin, sesak napas, muntah, hingga ingin pingsan.

Sedangkan gejala stroke bisa berupa kelemahan satu sisi tubuh (lengan dan tngkai), bicara pelo, mulut mencong, sulit menelan dan minum air, sakit kepala, serta penurunan kesadaran. Jika mengalami gejala tersebut, alangkah baiknya untuk segera minta bantuan orang terdekat untuk secepatnya membawa Anda ke rumah sakit.

  • Tetap lakukan gaya hidup sehat

Walaupun sudah mengonsumsi obat hipertensi secara teratur, bukan berarti Anda boleh melakukan apapun yang Anda inginkan. Sejatinya, penderita hipertensi tetap perlu melakukan pola hidup sehat, seperti pemilihan makanan yang baik dan rutin olahraga, sambil mengonsumsi obat tekanan darah tinggi yang diberikan dokter. Bahkan, jika tekanan darah tinggi masih ‘mepet’, dokter dapat menganjurkan untuk melakukan pola hidup sehat dan tidak perlu mengonsumsi obat.

Pilihan Menu Sahur Sehat dan Lezat Bagi Penderita Hipertensi

Pilihan Menu Sahur Sehat dan Lezat Bagi Penderita Hipertensi,- Salah satu penyebab puasa tidak lancar adalah kesalahan dalam memilih menu sahur. Pasalnya, sahur adalah waktu makan yang cukup penting bagi orang yang sedang berpuasa. Agar puasa tetap lancar, Anda perlu mengetahui menu sahur sehat dan tepat, terutama bagi Anda yang mengidap hipertensi atau tekanan darah tinggi.

Memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Anda yang berpuasa. Hal ini disebabkan karena penderita hiperetnsi sering kali mengeluh mudah pusing dan mual. Ini tentu akan mengganggu hari-hari puasa Anda.

Walaupun begitu, dilansir dari NHS Inggris, orang dengan tekanan darah tinggi boleh-boleh saja berpuasa. Namun, dengan catatan kondisi tubuh stabil. Maka dari itu, Anda dianjurkan untuk memperhatikan asupan makan sehari-hari, terutama saat sahur, untuk mencegah gejala hipertensi waktu sewaktu-waktu.

Selain untuk membantu menurunkan tekanan darah, pemilihan makanan yang tepat saat sahur juga dapat membantu meningkatkan energi saat berpuasa dan mengurangi risiko edema atau penimbunan cairan dalam tubuh.

Jika pada artikel sebelumnya kita telah memberikan informasi seputar menu buka puasa sehat yang tepat untuk penderita hipertensi, maka berikut ini merupakan beberapa pilihan menu sahur sehat dan lezat bagi penderita hipertensi yang bisa menjadi alternatif bagi Anda, yaitu :

  • Ikan sarden

Ikan sarden merupakan salah satu jenis ikan yang baik dikonsumsi sebagai menu sahur untuk penderita hipertensi. Hal ini disebabkan karena kandungan asam lemak omega-3 yang dimilikinya dapat membantu mengendalikan tekanan darah, mengurangi peradangan, dan mencegah penyakit jantung.

Agar sahur lebih sehat, lengkapi ikan sarden ini dengan sajian nasi merah yang mengandung tinggi serat. Ini akan membuat Anda merasa kenyang lebih lama dan tak mudah lapar saat puasa.

  • Oatmel susu dan buah

Oatmela saja mungkin tidak cukup untuk sahur Anda. Namun, oatmeal merupakan salah satu makanan rendah lemak dan natrium yang dapat membantu menurunkan tekanan darah. Selain itu, oatmeal juga mengandung serat tinggi sehingga dapat membuat Anda kenyang lebih lama saat puasa.

Jika ingin lebih sehat, maka tambahkan juga buah-buahan yang baik untuk penderita hipertensi, seperti pisang, alpukat, atau beri-berian. Segelas susu juga bisa melengkapi menu sahur Anda.

  • Nasi goreng sayur

Jika Anda mencari menu sahur sehat dan lezat bagi penderita hipertensi yang praktis, maka nasi goreng adalah jawabannya. Ya, nasi goreng merupakan salah satu makanan yang mudah dibuat dalam waktu singkat dan dapat dikreasikan dengan berbagai bahan makanan sehat lainnya.

Saat menggoreng, gunakanlah minyak zaitu yang kaya lemak sehat dan antioksidan sehingga bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah. Bahkan, sebuah kajian ilmiah yang dilakukan di Spanyol pada tahun 2015 menunjukkan bahwa minyak zaitu dapat membantu mengurangi risiko penyakit jantung.

Agar semakin sehat, Anda bisa menambahkan beberapa jenis sayuran pada nasi goreng Anda. Misalnya brokoli, sawi, kacang polong, dan sayuran lainnya. Pasalnya, sayuran hijau mengandung tinggi kalium yang dapat membantu menyingkirkan kelebihan garam dalam tubuh melalui urine. Ini tentu bermanfaat untuk menjaga tekanan darah tetap stabil selama berpuasa.

  • Sandwich roti gandum

Menu sahur untuk penderita hiperetnsi yang terakhir adalah roti gandum. Dr. Lu Wang, seorang peneliti asal harvard Medical School di Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa kandungan serat dan nutrisi pada gandum dapat membantu mencegah lonjakan tekanan darah. Selain itu, gandum utuh juga dapat mengandung vitamin B dan karbohidrat kompleks.

Terlebih lagi, roti gandum memiliki indeks glikemik yang tergolong rendah sehingga akan diserap lebih lama oleh tubuh. Akibatnya, Anda tidak akan mudah merasa lapar saat puasa.

Setangkup roti ditambah telur dadar atau telur ceplok sudah bisa menjadi hidangan yang menggugah selera saat sahur. Namun, gunakan bagian putih telurnya saja yang memiliki kadar kolesterol rendah sehingga tidak membuat tekanan darah naik.

Untuk melengkapi kebutuhan vitamin dan mineral, tambahkan juga berbagai jenis sayuran segar seperti bayam, tomat, timun, atau selada. Dengan begitu, maka menu sahur untuk penderita hipertensi ini akan semakin lezat dan juga tetap sehat.

Menu Buka Puasa sehat yang Tepat untuk Penderita Hipertensi

Menu Buka Puasa sehat yang Tepat untuk Penderita Hipertensi,- Puasa di bulan merupakan salah satu ibadah wajib yang harus dilakukan oleh setiap muslim. Selain keistimewaan dari sisi pahala, puasa juga dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan.

Namun, bagaimana dengan penderita penyakit hipertensi ? bisakah kita menjalankan puasa dengan lancar tanpa mempengaruhi kondisi tekanan darah ? Anda tidak perlu khawatir. Karena pada prinsipnya, tidak ada masalah bagi penderita hipertensi selama tekanan darahnya terkendali dan penderita minum obat hipertensi secara teratur. Saat ini sudah banyak obat yang bisa diminum cukup 1 kali dalam sehari, yang bisa diminum saat buka atau sahur.

Walaupun begitu, Anda harus tetap menerapkan pola makan yang sehat. Pasalnya, salah-salah menyantap makanan justru bisa membuat gejala hiperetnsi kambuh. Akan tetapi, Anda tidak perlu khawatir lagi karena gejala tersebut dapat diatasi dengan pemilihan makanan yang tepat saat berbuka puasa.

Agar tak salah pilih menu berbuka, berikut ini kami sajikan informasi seputar menu buka puasa sehat yang tepat untuk penderita hipertensi, diantaranya :

  • Sayur bayam

Bayam merupakan salah satu sayuran hijau yang dianjurkan untuk dikonsumsi penderita hipertensi karena kandungan kaliumnya. Ketika tubuh menerima asupan kalium, mineral tersebut akan membantu mengikat natrium dalam darah dan mengeluarkannya bersama urin. Hasilnya, tekanan darah tinggi saat seharian berpuasa akan menurun secara perlahan.

Maka dari itu, sajian sayur bayam ini bisa menjadi salah satu pilihan menu berbuka puasa sehat untuk penderita hipertensi. Agar rasanya semakin nikmat dan menggugah selera, Anda bisa menambahkan jenis sayuran lainnya, seperti wortel dan jagung manis sebagai pelengkapnya.

  • Ikan tuna panggang

Ikan merupakan salah satu sumber protein terbaik dengan kandungan lemak yang rendah. Dari sekian banyak jenis ikan yang ada, ikan tuna adalah salah satu jenis ikan yang baik dikonsumsi oleh penderita hipertensi.

Ikan tuna kaya akan kandungan asam lemak omega-3 yang dapat mencegah plak pada pembuluh darah, mengurangi peradangan, dan menurunkan kadar trigliserida dalam tubuh. Ketika pembuluh darah aman dari timbunan plak, maka ini artinya aliran darah akan semakin lancar dan tidak memerlukan tekanan berlebih untuk mengirimkan darah ke organ vital dalam tubuh.

Agar sajian ikan tuna untuk berbuka puasa menjadi lebih sehat, masaklah ikan tuna dengan cara dipanggang untuk menjaga agar kadar vitamin dan mineral didalamnya. Bumbui dengan minyak zaitun, perasan lemon, dan rempah-rempah lainnya untuk menambah cita rasanya.

  • Kurma

Kurma banyak bermunculan saat bulan Ramadhan. Ternyata selain memiliki rasa yang manis, kurma juga nyatanya cocok dikonsumsi sebagai menu buka puasa untuk hipertensi.

Hal ini disebabkan karena kurma mengandung kalium dan magnesium tinggi yang bermanfaat untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, mengendalikan detak jantung, dan menurunkan tekanan darah. Dengan mengonsumsi 4 buah kurma saat berbuka puasa, Anda telah memenuhi sekitar 668 mg kalium atau setara dengan 14% kebutuhan kalium harian pada orang dewasa.

  • Jus buah

Menu buka puasa sehat untuk penderita hipertensi selanjutnya yaitu jus buah. Jus buah delima dilaporkan dapat membantu menurunkan tekanan darah secara alami. Bahkan, buah yang berwarna merah ini juga efektif untuk meningkatkan kekebalan tubuh pada pasien yang menjalani dialisis atau cuci darah ginjal.

Selain delima, Anda juga bisa mengonsumsi jus pisang untuk membantu mengendalikan tekanan darah selama berpuasa. Pasalnya, satu buah pisang ukuran sedang ternyata dapat memenuhi 1% kalsium, 8% magneisum, dan 12% kalium yang diperlukan setiap harinya. Maka dari itu, mulaikan rutin mengonsumsi jus buah saat berbuka agar tekanan darah Anda tetap stabil selama bulan puasa.

Baca juga : Terapi Jus untuk Hipertensi

  • Kolak pisang

Kolak pisang merupakan menu takjil favorit selama bulan Ramadhan. Meskipun Anda memiliki masalah dengan tekanan darah tinggi, namun Anda tetap bisa makan kolah saat berbuka puasa.

Namun, Anda harus hati-hari dengan santan dan kandungan gula didalamnya. Keduanya dapat memicu kenaikan kolesterol dan gula darah. Maka dari itu, buat kolak sehat versi Anda dengan menggunakan susu skim (bebas lemak) atau yoghurt sebagai pengganti santan.

Susu skim maupun yoghurt sama-sama mengandung kalsium tinggi dan rendah lemak. Kedua zat gizi tersebut dapat membantu menurunkan tekanan darah tinggi saat puasa.

Sebagai pelengkapnya, Anda bisa menambahkan pisang untuk menambah asupan kalium pada menu buka puasa Anda. Kandungan kalium yang terdapat pada pisang dapat membantu mengurangi efek natrium dalam darah. Kombinasi ini jelas bermanfaat untuk membantu mengatasi tekanan darah tinggi saat puasa.

Mengetahui Hubungan Antara Penyakit Hipertensi dan Diabetes

Mengetahui Hubungan Antara Penyakit Hipertensi dan Diabetes,- Penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi dan diabetes memiliki hubungan yang erat. Keduanya bersifat saling memengaruhi, sehingga penderita diabetes yang memiliki tekanan darah tinggi akan semakin sulit untuk disembuhkan atau diturunkan kadar gulanya. Begitu pula sebaliknya, penderita hipertensi yang memiliki riwayat diabetes juga akan lebih sulit untuk mengontrol tekanan darahnya.

Hipertensi dan diabetes bisa terjadi bersama-sama sehingga sering dianggap sebagai komorbiditas, penyakit yang mungkin timbul pada pasien yang sama. Hipertensi atau tekanan darah tinggi bisa terjadi dikarenakan adanya komplikasi penyakit diabetes yang kronis. Maka tak heran jika penderita diabetes memiliki risiko sekitar 40% kehilangan nyawa yang disebabkan oleh penyakit jantung koroner terkait dengan meningkatnya lemak darah yang menyebabkan plak.

Lalu, kenapa diabetes dan bipertensi biasa terjadi bersamaan ? Berikut ini merupakan beberapa alasannya !

Memiliki sifat fisiologis yang sama

Diabetes dan hipertensi cenderung terjadi secara bersamaan dikarenakan mereka memiliki ciri-ciri fisiologis tertentu, yaitu efek yang disebabkan oleh masing-masing penyakit cenderung membuat penyakit lain lebih mungkin terjadi. dalam kasus diabetes dan tekanan darah tinggi, efek ini meliputi :

  • Peningkatan volume cairan, diabetes meningkatkan jumlah total cairan dalam tubuh, yang cenderung meningkatkan tekanan darah.
  • Peningkatan kekakuan arteri, diabetes dapat menurunkan kemampuan pembuluh darah untuk meregang, meningkatkan tekanan darah rata-rata.
  • Gangguan penanganan insulin, perubahan dalam cara tubuh memproduksi dan menangani insulin dapat langsung menyebabkan peningkatan tekanan darah.

Mempengaruhi pasien yang sama

Penderita penyakit tertentu dapat dipengaruhi oleh faktor risiko salah satu dari kedua kondisi ini. Diabetes dan tekanan darah tinggi dapat dianggap sebagai penyakit yang ‘berbagi pasien’, dimana masing-masing penyakit cenderung mempengaruhi pasien yang sudah berisiko untuk kondisi yang lain. Hal ini mirip dengan konsep faktor risiko yang sama.

Sebagai contoh, data telah menunjukkan bahwa orang yang merokok lebih dari 1 bungkus rokok sehari lebih mungkin untuk minum minuman beralkohol dibandingkan dengan mereka yang tidak merokok.

Benda rokok dan alkohol memang tidak memiliki kesamaan, namun aktivitas merokok dan minum alkohol memiliki kesamaan. Demikian juga dengan orang-orang yang terlibat dalam gaya hidup yang menyebabkan diabetes juag cenderung mengikuti pola yang menempatkan mereka pada risiko tekanan darah tinggi.

Baca juga : Pengobatan Darah Tinggi yang Tepat untuk Penderita Diabetes

Memiliki faktor pemicu yang sama

Diabetes dan tekanan darah tinggi cenderung memiliki banyak faktor pemicu. Risiko untuk terjadinya tekanan darah tinggi juga berkontribusi terhadap perkembangan diabetes. Diet tinggi lemak yang kaya garam dan gula yang diproses menempatkan beban lebih pada aktivitas produksi enzim dan sistem kardiovaskular.

Rendahnya tingkat aktivitas fisik menurunkan efisiensi insulin dan menyebabkan arteri kaku dan respons sistem kardiovaskular yang buruk. Kelebihan berat badan juga memiliki konsekuensi yang sama dan merupakan faktor risiko yang kuat untuk diabetes ataupun darah tinggi. Strategi pendegahan untuk tekanan darah tinggi dan diabetes biasanya fokus pada faktor-faktor risiko tertentu.

Diabetes dan hipertensi bisa memperparah dengan sendirinya

Pasien dengan diabetes mengalami peningkatan gula darah dibandingkan dengan pasien tanpa diabetes. Kelebihan gula ini memiliki banyak konsekuensi, termasuk kerusakan pembuluh darah sensitif secara perlahan yang disebut dengan kapiler.

Kerusakna kapiler tertentu dalam ginjal dapat merusak kemampuan tekanan darah dalam mengatur ginjal, menyebabkan tekanan darah tinggi. Peningkatan tekanan darah ini menyebabkan perubahan kecil dalam aliran darah, yang memepengaruhi kapiler sensitif lainnya sehingga mengalami kerusakan tambahan.

Tekanan darah tinggi juga dapat mempengaruhi sekresi insulin dari pankreas, yang mengarah ke gula darah yang lebih tinggi. Dengan cara ini, kombinasi tekanan diabetes atau hipertensi merupakan suatu sistem yang dapat memperparah kondisi itu sendiri yang menyebabkan kedua penyakit tersebut cenderung semakin memburuk dari waktu ke waktu.

Seberapa umumkah hipertensi pada penderita diabetes ?

Data besar dari studi pada diabaetes tipe 1 menunjukkan bahwa :

  • 5% dari pasien diabetes memiliki tekanan darah tinggi dalam 10 tahun
  • 33% memiliki tekanan darah tinggi dalam 20 tahun
  • 70% memiliki tekanana darah tinggi pada usia 40 tahun

Dalam penelitian diabetes tipe 2, data menunjukkan bahwa hampir 75% dari pasien dengan masalah ginjal (komplikasi umum) memiliki tekanan darah tinggi. Pada pasien dengan diabetes tipe 2 tapi tidak ada masalah ginjal, tingkat tekanan darah tinggi yang terjadi yaitu sekitar 40%. Secara keseluruhan, jika dirata-ratakan untuk seluruh penderita diabetes dan semua rentang usia, sekitar 35% dari semua orang dengan diabetes memiliki tekanan darah tinggi.

Bahaya! Jangan Minum Antibiotik dan Obat Hipertensi Bersamaan

Bahaya! Jangan Minum Antibiotik dan Obat Hipertensi Bersamaan,- Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri penyebab penyakit pada manusia dan hewan seperti salmonella, tuberkulosis, sipilis, dan penyakit lainnya. Obat antibiotik juga diketahui bisa meningkatkan tekanan darah jika seseorang mengidap alergi akut atau kronis terhadap antibiotik tersebut.

Reaksi alergi yang disebabkan oleh obat antibiotik ini bisa berupa reaksi ringa sampai reaksi alergi yang parah. Reaksi alergi yang parah terkadang bsia mengancam nyawa penderitanya.

Sedangkan mengonsumsi antibiotik dan obat tekanan darah secara bersamaan bisa membuat tekanan darah menurun drastis dan menyebabkan syok pada pasien yang berusia lanjut.

Dalam sebuah penelitian, para peneliti menemukan bahwa orang lanjut usia yang mengonsumsi calcium-channel blockers (kelas obat yang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi) yang juga mengonsumsi antibiotik macrolide, erythromycin, atau clarithromycin lebih berisiko dirawat di rumah sakit karena hipotensi atau tekanan darah sangat rendah.

Clarithromycin dan erythromycin dapat berinteraksi dengan calcium-channel blockers. Obat ini menghambat sitokrom P450 isoenzim 3A4. Namun sayangnya, mekanisme dan penyebab interaksi ini belum dipahami dengan jelas.

Jangan konsumsi antibiotik dengan obat hipertensi secara bersamaan

Sebuah studi juga menunjukkan jika Anda mengonsumsi jenis pengobatan tekanan darah tinggi yang paling umum, Anda tidak boleh diresepkan berbarengan dengan beberapa jenis antibiotik tertentu. Studi ini menunjukkan bahwa kombinasinya dapat menyebabkan cedera ginjal yang jarang tetapi akibatnya serius.

Cedera ginjal akut, tekanan darah rendah yang sangat berbahaya, dan kematian dapat terjadi pada orang yang mengonsumsinya secara bersamaan. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang minum clarithromycin dan calcium-channel blockers secara bersamaan dua kali lipat lebih berisiko terhadap efek samping di atas dalam waktu 30 hari sejak mengonsumsi antibiotik tersebut.

Walaupun peningkatan risiko tergolong kecil, namun dampaknya tidak bisa disepelekan. Sebuah studi pada awal tahun ini juga menunjukkan bahwa clarithromycin dan erythromycin juga berinteraksi dengan cara yangs ama dengan obat statin, yaitu obat penurun kolesterol.

Namun, efek samping obat antibiotik yang berkaitan dengan tekanan darah berbeda pada setiap orang. Pasalnya, obat dari jenis apapun emmang akan menurunkan atau meningkatkan tekanan darah.

Jika Anda memiliki tekanan darah tinggi, sebaiknya hati-hati dengan penggunaan antibiotik karena dapat menimbulkan efek samping yang serius. Ketika antibiotik dikonsumsi oleh pasien dengan tekanan darah tinggi, maka risiko serangan jantung akan meningkat.

Konsultasikan terlebih dahulu mengenai obat apa pun yang Anda konsumsi. Jangan lupa, jika Anda memiliki hiperensi dan suatu saat Anda melakukan pemeriksaan ke dokter umum karena penyakit tertentu, misalnya flu, beri tahukan dokter bahwa Anda rutin mengonsumsi obat tekanan darah tinggi. Dokter mungkin akan menggunakan jenis antibiotik lain atau menyesuaikan dosisnya.

 

Baca juga :

Gejala Ini Mengindikasikan Anda Mengalami Krisis Hipertensi

Gejala Ini Mengindikasikan Anda Mengalami Krisis Hipertensi,- Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan kondisi kronis serta bisa menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan organ yang umumnya terjadi selama bertahun-tahun.

Penyakit hipertensi biasanya terjadi pada orang-orang yang berusia diatas 65 tahun. Namun, saat ini banyak orang-orang yang berusia produksi sudah memiliki tekanan darah tinggi. Hal tersebut disebabkan karena gaya hidup yang mereka jalani seperti diet tinggi garam, kurang beraktivitas fisik, sulit mengendalikan emosi, dan obesitas.

Jika tidak ditangani dengan tepat, maka tekanan darah dapat meningkat dengan cepat dan cukup parah atau dikenal juga dengan krisis hipertensi. Krisis hipertensi adalah peningkatan tekanan darah parah yang dapat menyebabkan stroke. Tekanan darah tinggi dengan tingkat atas (tekanan sistolik) 180 mmHg atau lebih tinggo atau tekanan bawah (tekanan diastolik) lebih dari 120 mmHg atau lebih tinggi dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah.

Pembuluh darah menjadi meradang dan dapat terjadi kebocoran cairan atau darah. Akibatnya, jantung tidak dapat memompa darah secara efektif.

Gejala hipertensi memang sulit dikenali. Untuk mendeteksinya, Anda perlu memeriksa tekanna darah secara rutin. Namun, ada gejala-gejala khusus yang perlu diwaspadai karena bisa jadi itu mengindikasikan kondisi hipertensi yang parah atau krisis hipertensi.

Beaberapa gejala yang mengindikasi Anda mengalami krisis hipertensi yang perlu diwaspadai diantaranya adalah nyeri dada, sakit kepala, dengungan menyakitkan di telinga, mimisan, dan masalah penglihatan seperti buran atau kabur.

Jika Anda sering mengalami beberapa gejala tersebut, maka sebaiknya segera kunjungi dokter. Pasalnya, bisa jadi Anda mengalami krisis hipertensi.

Krisis hipertensi bisa membuat gejalanya berkembang atau berlanjut ke tingkat yang lebih berbahaya. Kondisi ini bisa dikatakan kondisi darurat medis dan meningkatkan peluang terjadinya stroke ataupun serangan jantung.

Selain berkonsultasi dengan dokter, olahraga teratur, cukup tidur, serta konsumsi buah dan sayur juga bisa membantu menurunkan risiko hipertensi.

Benarkah Daging yang Dimasak Matang Sebabkan Hipertensi?

Benarkah Daging yang Dimasak Matang Sebabkan Hipertensi?,- Daging merupakan salah satu makanan yang cukup banyak digemari. Ada banyak olahan makanan yang berbahan dasar daging, salah satunya adalah steak.

Dalam menikmati steak daging ini, tidak sedikit orang, terutama orang Indonesia yang memilih memasaknya dengan kematangan yang sempurna atau disebut juga ‘well done’. Hal ini disebabkan karena daging yang masih mengeluarkan jus daging dinilai belum matang.

Namun, sebaiknya hentikan kebiasaan ini mulai sekarang. Pasalnya memasak daging hingga terlalu matang ternyata memiliki efek buruk bagi kesehatan. Hal tersebut terungkap dari penelitian yang dilakukan oleh Asosiasi Jantung Amerika.

Sebuah penelitian oleh American Heart Association mengungkapkan jika orang yang rutin konsumsi daging dengan tingkat kematangan well done bisa berisiko terkena hipertensi. Penelitian ini melibatkan partisipan sebanyak 100.000 orang. Para ahli meneliti cara memasa dan tekanan darah mereka selama 12 sampai 16 tahun. Hasilnya, peserta yang mengonsumsi daging sapi, ayam, atau ikan yang dimasak dengan suhu tinggi berpotensi terkena hipertensi sebesar 15% sampai 17%.

Hasil lainnya, peserta yang mengonsumsi dagin degan tingkat kematangan sempurna atau ‘well done’ memiliki risiko terkena hipertensi sebesar 15%. Dibandingkan dengan peserta yang mengonsumsi daging dengan tingkat kematangan ‘medium rare’.

Para peneliti juga menyimpulkan bahwa orang yang mengonsumsi daging panggang lebih dari 15 kali per bulan memiliki risiko terkena hipertensi sebesar 17% dibandingkan dengan orang yang hanya mengonsumsinya sebanyak 4 kali per bulan.

Hal ini dikarenakan adanya senyawa kimia bernama heterocyclic aromatic amines (HAAs) yang dihasilkan saat daging dipanggang dengan suhu tinggi. Sehingga mereka yang mengonsumsi zat kinia ini sangat rentan terhadap kenaikan tekanan darah.

Artikel terkait :

Menurut penulis penelitian, Gang Liu, kandungan kimia yang dihasilkan dari memasak daging dengan temperatur tinggi ini dapat meningkatkan tingkat oksidasi, inflamasi serta resisten insulin. Ini merupakan hasil penelitian terhadap hewan.

Namun, para peneliti menggaris bawahi bahwa penelitian ini tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur jika daging yang dimasak dengan tingkat kematangan ‘medium rare’ lebih baik daripada ‘well done’. Walaupun cara mengolah makanan dapat berpengaruh terhadap kesehatan, para ahli lebih menyarankan untuk melakukan diet seimbang daripada menghindari makanan yang diolah dengan temperatur tinggi.

Sebenarnya masalah hipertensi tidak hanya disebabkan karena mengonsumsi daging panggang. Seorang ahli diet asal Amerika bernama Katrina A Trisko, mengatakan bahwa National Cancer Institute telah memperingatkan tentang bahaya kanker jika terlalu sering mengonsumsi daging, baik diolah dengan cara dipanggang atau digoreng.

Menurut ahli, sebaiknya jangan terlalu menghindari makanan yang berisiko memberi dampak buruk bagi kesehatan. Tetapi Anda harus menjaga pola makan teratur yang seimbang. Jangan hanya mengonsumsi satu jenis makanan saja, tetapi konsumsilah beragam jenis makanan baik dengan cara dipanggang, direbus, goreng, ataupun tumis.