Daripada Pria, Perempuan Berisiko Terserang Hipertensi Paru

Dibandingkan pria, ternyata perempuan lebih rentan terkena penyakit hipertensi paru. Jika tidak segera ditangani, maka itu akan mengancam keselamatan nyawa penderita, terutama ibu hamil dan bayi yang ada di dalam kandungannya. Namun, penyakit tersebut sering tidak terdiagnosis karena gejalanya menyerupai penyakit lain.

Hipertensi paru merupakan jenis tekanan darah tinggi yang terjadi di arteri paru, saluran penghubung sisi kanan jantung ke paru. Hipertensi paru terjadi ketika arteri dan kapiler menyempit sehingga darah sulit mengalir melalu paru-paru. Akibatnya, bagian kanan jantung meningkatkan tekanan demi memompa darah ke paru-paru sehingga jantung melemah.

Daripada Pria, Perempuan Berisiko Terserang Hipertensi Paru

Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Rumah Sakit Umum Pusat Sardjito, Yogyakarta, Lucia Kris Dinarti, penyebab hipertensi paru lebih banyak menyerang pada perempuan belum diketahui. kemungkinan terkait epidemologi.

Lebih dari 25 juta kasus hipertensi paru di dunia, prevalensi 5-10 pasien per 100.000 jiwa, 50% nya tidak berobat hingga meninggal kurang dari 2 tahun.

Menurut data RSUP Sardjito, sejak Juli 2012 sampai Desember 2015, terdapat 336 orasng dengan kasus hipertensi paru dan 80% diantaranya adanya perempuan.

Hipertensi paru akibat penyakit lain, seperti jantung bawaan dan paru-paru. Perempuan menikah dan menderita hipertensi paru tidak boleh hamil karena berisiko tinggi pada kehamilan, bahkan dapat memicu kematian ibu dan anak.

Namun, umumnya penderita hipertensi paru berobat pada usia di atas 18 tahun dengan gejal sesak napas, bibir membiru, mudah lelah, sering pingsan, dan kaki bengkak. Banyak pasien tidak terdiagnosis karena gejala sama dengan asma, paru kronis, dan bronkitis.

Baca Juga : Manfaat Jus Ceri untuk Menurunkan Tekanan Darah Tinggi

Prof Noriaki Emoto, MD, PhD dari Kobe University, Jepang, memaparkan bahwa hipertensi paru harus terdiagnosis sedini mungkin demi mempercepat terapi. Di Jepang, diagnosis dimulai sejak masa kehamilan, kelahiran bayi, dan rutin di pantau.

Penanganan pasien bisa dilakukan melalui operasi, intervensi non bedah, obat, hingga cangkok organ paru. Biaya obat penyakit jantung tersebut sekitar Rp. 3.6 juta perhari.

Menurut Ketua Yayasan hipertensi paru Indonesia, Indriani Ginoto, stok obat hipertensi paru di Indonesia minim. Dari 14 jenis obat hipertensi paru, baru 4 obat masuk Indonesia. Akibatnya, pasien terpaksa membeli obat di luar negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *