Krisis Hipertensi

krisis hipertensiobathipertensi.info,- Dari populasi hipertensi, di  taksir sekitar 70% menderita hipertensi  ringan, 20% hipertensi sedang, dan 10%  hipertensi berat. Pada setiap tingkatan  hipertensi ini dapat menimbulkan krisis  hipertensi dimana tekanan darah diastolik  sangat meningkat hingga 120-130 mmHg  yang merupakan suatu kegawatan medik  dan memerlukan penanganan yang cepat  dan tepat untuk menyelamatkan jiwa  penderita. Krisis hipertensi dibagi menjadi 2  bagian, yaitu hipertensi emergency (darurat) dan hipertensi urgency  (mendesak).

Hipertensi Emergency

Hipertensi emergency merupakan suatu  keadaan yang ditandai oleh peningkatan  tekanan darah >180/120 mmHg yang  disertai bukti adanya kerusakan target  organ akut atau progresif sehingga  memerlukan penurunan tekanan darah  segera dengan menggunakan obat secara  parental.

Hipertensi Urgency

Hipertensi urgensi yaitu situasi  meningkatnya tekanan darah secara tajan  tanpa adanya gejala yang  berat atau  kerusakan target organ progresif. Kondisi  ini memerlukan penurunan tekanan darah  dalam beberapa jam dengan menggunakan  obat oral.

Membedakan kedua jenis krisis hipertensi  ini bukan dari tingginta tekanan darah,  melainkan dari kerusakan organ sasaran.  Hipertensi emergency dan urgency perlu  dibedakan karena cara penanganannya  berbeda.

Krisis hipertensi berpengaruh pada berbagai  sistem organ. Peningkatan tekanan darah  secara tiba-tiba dapat menyebabkan  hiperfungsi dan meningkatkan Cerebral  Blood Flow, yang dapat menyebabkan  tekanan intrakranial meningkat edema  otak.Krisis hipertensi dapat terjadi pada  keadaan-keadaan sebagai berikut :

  1. Penderita hipertensi yang tidak meminum  obat atau meminum obat antihipertensi  tetapi tidak teratur
    Kehamilan
  2. Penggunaan NAPZA
  3. Penderita dengan rangsangan simpatis  yang tinggi seperti luka bakar berat,  phaeochromocytoma, penyakit kolagen,  penyakit vaskular, trauma kepala.
  4. Penderita hipetensi dengan penyakit  parenkim.

Krisi hipertensi dapat terjadi pada penderita  hipertensi esensial maupun hipertensi yang  terakselerasi. Juga dapat terjadi pada  penderita dengan tekanan darah normal  (normotensif). Selain itu juga hipertensi  dapat menjangkit pada usia berapapun,  mengenai neonatus dengan hipoplasi arteri  ginjal kongenital, anak-anak dengan  glomerulonefritis akut, wanita hamil  dengan eklampsia, atau orang yang lebih  tua dengan arterisklerotis stenosis  pembuluh darah ginjal.

Gejala Krisis Hipertensi

Tanda dan GejalaDerajat kenaikan tekanan darah pada  kegawatan dan ada tidaknya penyakit pada  end organ sebelumnya sangat menentukan  tanda dan keluhan yang ada pada krisis  hipertensi. Keluhan yang biasanya timbul  berupa ensefalopati hipertensi dengan  keluhan sakit kepala, perubahan mental  dan gangguan neurologis, mual, muntah,  gangguan kesadaran, atau dapat pula  disertai dengan gejala kerusakan end organ  sepert nyeri dada, pemendekkan napas,  kecemasan, dan lain-lain.

Pada tingkat awal, manifestasi klinis  hipertensi dapat hilang seluruhnya tanpa  meninggalkan komplikasi yang menetap.  Oleh sebab itu, diagnosa harus secepatnya  ditegakkan, supaya tindakan pengobatan  dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.

Pengobatan Krisis Hipertensi

Tujuan pengobatan hipertensi sebenarnya  tidak hanya untuk menurunkan tekanan  darah, tetapi juga untuk  mencegah/memperbaiki kelainan  fungsional dan struktural yang terjadi  akibat hipertensi (komplikasi organ  sasaran), diantaranya :

  1. Menurunkan tekanan darah seoptimal  mungkin, tetapi tidak mengganggu perfusi  organ sasaran.
  2. Mencegah komplikasi  vaskuler/arteriosklerotik dan kerusakan  organ sasaran, mengontrol faktor resiko  yang lain.
  3. Bila sudah terjadi komplikasi diusahakan  retardasif(kalau mungkin regresi  komplikasi) atau arteriosklerosis dan  kerusakan target organ (LVH, nefropati,  dan sebagainya).
  4. Memantau dan mengontrol efek samping  obat lain yang dapat menambah morbiditas  dan mortalitas.

Tekanan darah yang sedemikian tinggi  pada krisis hipertensi haruslah segera  diturunkan, karena penundaan akan  memperburuk penyakit yang akan timbul.  Namun dipihak lain, penurunan yang  terlalu agresif juga dapat menimbulkan  berkurangnya perfusi dan aliran darah ke  organ vital terutama otak, jantung dan  ginjal. Oleh sebab itu, penurunan tekanan  darah terutama pada hipertensi kronik  harus bertahap dan memerlukan  pendekatan individual.

Semoga informasi tentang krisis hipertensi  diatas dapat bermanfaat dan dapat  memberikan sedikit pengetahuan buat kita  semua. Dan juga mudah-mudahan dapat  membantu kita dalam menjalani hidup  yang lebih sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *